Jumat, Mei 15, 2009

BK, Solusi Kenakalan Remaja

”Pasangan pelajar menginap di sebuah hotel’’. Begitu berita yang tersaji pertengahan Oktober 2008 silam di media terbitan Kepri. Bak bersambung, publik dikejutkan lagi berita siswi SMA melarikan diri bersama pacarnya dan menginap di sebuah hotel. Belum reda berita tersebut, muncul pula berita sejumlah pelajar ditangkap saat pesta minuman keras. Yang membuat miris dan terasa menyentak, pelaku dari semua peristiwa tersebut adalah remaja yang berstatus pelajar sekaligus calon pewaris bangsa ini. Pertanyaan yang banyak terlontar barangkali, ”kok bisa?’’, ”fenomena apakah ini?’’ dan ”mengapa itu bisa terjadi?’’.

Tulisan ini diilhami setelah membaca berbagai tanggapan di media massa akibat meningkatnya kenakalan remaja (pelajar) di Kepri belakangan ini. Rata-rata para pejabat yang menangani bidang pendidikan berkomentar, remaja yang mencoreng dunia pendidikan harus ditindak dan menjadi perhatian khusus (Kala Pelajar Mulai Menyimpang, Liputan Khusus Batam Pos, Minggu 2 November 2008). Orangtua disarankan harus mengawasi anaknya, tempat-tempat hiburan dan hotel meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sekolah. Ada pula opini yang menyarankan menjadikan Gurindam 12 sebagai karakter pendidikan Kepri (Batam Pos Sabtu, 1 November 2008) dan komentar-komentar lainnya. Saya menilai, apa yang dikomentari tak menyentuh esensi permasalahan. Namun semua tak ada salahnya. Hanya saja, kita harus menemukan apa yang menjadi solusi menekan atau mengurangi kenakalan remaja tersebut.


Saya lebih sepakat dengan komentar Dekha Dwi, pelajar yang juga pasukan pengibar bendera (Paskibra) Provinsi Kepri seperti dimuat Batam Pos, Minggu 2 November 2008. Sekali lagi, bukan hendak menyalahkan komentar lain. Dekha yang seorang pelajar itu menyarankan agar setiap sekolah mempunyai Badan Konseling (BK) untuk mencegah perilaku menyimpang yang dilakukan pelajar. ”Kami mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan generasi penerus bangsa. Salah satu upaya pencegahan perilaku menyimpang adalah dengan mengadakan badan konseling di setiap sekolah,’’ ujar Dekha yang finalis Olimpiade Astronomi tingkat nasional tahun 2008.
Benar sekali kamu Dekha. Dan saya kira, inilah solusi yang tepat. Sebenarnya, Badan Konseling atau BK yang dulu disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), harus ada di setiap sekolah dan menjadi syarat penting sebagaimana setiap sekolah harus memiliki perpustakaan. Wadah ini mungkin sudah ada di setiap sekolah, namun perannya barangkali kurang diperhatikan. Bisa saja karena sekolah tak mengetahui secara pasti apa manfaat dan kontribusi keberadaannya. Juga ia tak menjadi perhatian lantaran tidak ada personel yang secara khusus menangani.


Penyelenggara atau guru yang menangani BK di sekolah biasa disebut konselor. Istilah ini secara resmi digunakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dengan menyatakan konselor adalah pendidik dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 menyatakan konselor adalah pelaksana pelayanan konseling di sekolah yang sebelumnya menggunakan istilah petugas BP, guru BP/BK dan guru pembimbing. Nah, berkaca dari fenomena kenakalan remaja yang terjadi, inilah momen peran Badan Konseling harus ditingkatkan dari selama ini yang hanya sekadar ada. Pada hakikatnya, tujuan BK sama dengan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. BK merupakan proses pemberian bantuan agar anak didik mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan.


Sebagai penyelenggara BK di sekolah, terlebih dahulu guru memang harus memahami akan hakiki dari makna keberadaan BK itu sendiri, apa tujuannya, bagaimana fungsi dan perannya di sekolah. Setidak-tidaknya ada empat fungsi utama guru BK, antaranya: pemahaman individu dengan segala karakteristiknya, fungsi pencegahan, yakni mencegah perilaku negatif yang dapat menghambat perkembangan anak, fungsi pengentasan, yakni memberi bantuan dalam mengentaskan permasalahan, serta fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yakni bagaimana memelihara dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik.


Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah tempat untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya, baik sebagai pribadi, dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Secara sederhana, obyek-obyek dari BK dapat dikategorikan dalam tiga jenis yakni, bimbingan yang berhubungan dengan perkembangan pribadi (personal development), bimbingan yang berhubungan dengan pendidikan (education), dan bimbingan yang berhubungan dengan pemilihan pekerjaan atau bimbingan karier (vocational). Untuk dapat memenuhi fungsinya, beberapa tugas minimal yang harus dilakukan BK antara lain: Pertama, membantu anak supaya berhasil dalam studinya dengan cara memberi test yang sesuai untuk mengetahui intelegensi dan kemampuan anak. Kedua, menyelidiki minat dan latar belakang anak supaya diketahui latar belakang ekonomi, sosial, dan kebudayaan anak.


Ketiga, membantu memecahkan masalah-masalah yang mengganggu kelancaran studi anak, misalnya masalah keluarga, masalah pribadi, masalah belajar dan masalah pergaulan. Termasuk menekan dan menjauhkan anak dari masalah-masalah yang dapat mengganggu belajarnya dengan cara pengisian waktu luang, membantu dalam pemilihan hobi, membantu dalam bergaul, membantu memelihara kesehatan mental dan fisik serta mengadakan bimbingan secara individual maupun kelompok. Keempat, membantu anak dalam pemilihan pekerjaan dengan memberikan informasi mengenai jenis-jenis jabatan, memberikan informasi macam-macam perguruan tinggi serta mengajak anak-anak mengunjungi instansi-instansi ataupun industri-industri. Kelima, mengadakan kunjungan rumah guna memberi informasi kepada orang tua/wali tentang anaknya, dan meminta kerja sama orang tua/wali dalam ikut membantu pemecahan masalah anaknya di rumah maupun di sekolah.


Seorang guru BK, tak hanya harus memahami fungsi, tujuan dan perannya semata. Namun, dia harus khusus tanpa dibebani semisal tugas mengajar mata pelajaran di kelas dan merangkap jabatan lain di sekolah. Pun, guru BK haruslah benar-benar mereka yang kompeten. Artinya, BK membutuhkan tenaga-tenaga ahli, minimal ahli psikologi pendidikan dan bimbingan. Bahkan, untuk lebih bagus dapat ditambah dengan ahli di bidang pekerjaan sosial, dokter dan tenaga administrasi serta didukung fasilitas memadai untuk melakukan kegiatan yang bisa disejalankan dengan tujuan pendidikan.


Benar memang, untuk mengoptimalkan BK butuh biaya besar dan mahal. Namun bila dihayati dan dicermati secara seksama, bahwa guru BK eksistensinya sangat diperlukan. Apalagi kini kita dalam era globalisasi. Ke depan permasalahan semakin kompleks, baik lingkup internasional, regional, maupun nasional. Dampak dari semua itu akan berpengaruh terhadap perkembangan anak didik. Tingkat kerawanan yang menimpa anak didik perlu selalu dikhawatirkan, dan guru BK bertanggungjawab secara moral untuk mengantisipasi lalu memberikan bekal agar anak didik memiliki kekebalan terhadap bermacam-macam penyakit sosial.


Kita semua harus sepakat. Mungkin saatnya semua yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan (pemerintah, legislatif dan pakar di bidang pendidikan) untuk bersama-sama mulai berfikir bagaimana memberdayakan wadah BK di sekolah-sekolah. Harapan minimalnya, ya dapat menekan keinginan-keinginan anak yang kurang menguntungkan. Jika anak didik sudah diberikan bekal yang cukup, maka apapun dampak dari modernisasi akan dapat disaring secara positif sehingga semua itu menjadi proses pembelajaran agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara dewasa. Ini berarti, tanggungjawab peningkatan mutu pendidikan tersebut merupakan tugas kita bersama. Kelak, kita berharap berita miris seperti yang sudah terjadi tidak terdengar lagi. Semoga.***
Readmore Baby...

BK, Solusi Kenakalan Remaja

”Pasangan pelajar menginap di sebuah hotel’’. Begitu berita yang tersaji pertengahan Oktober 2008 silam di media terbitan Kepri. Bak bersambung, publik dikejutkan lagi berita siswi SMA melarikan diri bersama pacarnya dan menginap di sebuah hotel. Belum reda berita tersebut, muncul pula berita sejumlah pelajar ditangkap saat pesta minuman keras. Yang membuat miris dan terasa menyentak, pelaku dari semua peristiwa tersebut adalah remaja yang berstatus pelajar sekaligus calon pewaris bangsa ini. Pertanyaan yang banyak terlontar barangkali, ”kok bisa?’’, ”fenomena apakah ini?’’ dan ”mengapa itu bisa terjadi?’’.

Tulisan ini diilhami setelah membaca berbagai tanggapan di media massa akibat meningkatnya kenakalan remaja (pelajar) di Kepri belakangan ini. Rata-rata para pejabat yang menangani bidang pendidikan berkomentar, remaja yang mencoreng dunia pendidikan harus ditindak dan menjadi perhatian khusus (Kala Pelajar Mulai Menyimpang, Liputan Khusus Batam Pos, Minggu 2 November 2008). Orangtua disarankan harus mengawasi anaknya, tempat-tempat hiburan dan hotel meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sekolah. Ada pula opini yang menyarankan menjadikan Gurindam 12 sebagai karakter pendidikan Kepri (Batam Pos Sabtu, 1 November 2008) dan komentar-komentar lainnya. Saya menilai, apa yang dikomentari tak menyentuh esensi permasalahan. Namun semua tak ada salahnya. Hanya saja, kita harus menemukan apa yang menjadi solusi menekan atau mengurangi kenakalan remaja tersebut.


Saya lebih sepakat dengan komentar Dekha Dwi, pelajar yang juga pasukan pengibar bendera (Paskibra) Provinsi Kepri seperti dimuat Batam Pos, Minggu 2 November 2008. Sekali lagi, bukan hendak menyalahkan komentar lain. Dekha yang seorang pelajar itu menyarankan agar setiap sekolah mempunyai Badan Konseling (BK) untuk mencegah perilaku menyimpang yang dilakukan pelajar. ”Kami mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan generasi penerus bangsa. Salah satu upaya pencegahan perilaku menyimpang adalah dengan mengadakan badan konseling di setiap sekolah,’’ ujar Dekha yang finalis Olimpiade Astronomi tingkat nasional tahun 2008.
Benar sekali kamu Dekha. Dan saya kira, inilah solusi yang tepat. Sebenarnya, Badan Konseling atau BK yang dulu disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), harus ada di setiap sekolah dan menjadi syarat penting sebagaimana setiap sekolah harus memiliki perpustakaan. Wadah ini mungkin sudah ada di setiap sekolah, namun perannya barangkali kurang diperhatikan. Bisa saja karena sekolah tak mengetahui secara pasti apa manfaat dan kontribusi keberadaannya. Juga ia tak menjadi perhatian lantaran tidak ada personel yang secara khusus menangani.


Penyelenggara atau guru yang menangani BK di sekolah biasa disebut konselor. Istilah ini secara resmi digunakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dengan menyatakan konselor adalah pendidik dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 menyatakan konselor adalah pelaksana pelayanan konseling di sekolah yang sebelumnya menggunakan istilah petugas BP, guru BP/BK dan guru pembimbing. Nah, berkaca dari fenomena kenakalan remaja yang terjadi, inilah momen peran Badan Konseling harus ditingkatkan dari selama ini yang hanya sekadar ada. Pada hakikatnya, tujuan BK sama dengan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. BK merupakan proses pemberian bantuan agar anak didik mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan.


Sebagai penyelenggara BK di sekolah, terlebih dahulu guru memang harus memahami akan hakiki dari makna keberadaan BK itu sendiri, apa tujuannya, bagaimana fungsi dan perannya di sekolah. Setidak-tidaknya ada empat fungsi utama guru BK, antaranya: pemahaman individu dengan segala karakteristiknya, fungsi pencegahan, yakni mencegah perilaku negatif yang dapat menghambat perkembangan anak, fungsi pengentasan, yakni memberi bantuan dalam mengentaskan permasalahan, serta fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yakni bagaimana memelihara dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik.


Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah tempat untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya, baik sebagai pribadi, dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Secara sederhana, obyek-obyek dari BK dapat dikategorikan dalam tiga jenis yakni, bimbingan yang berhubungan dengan perkembangan pribadi (personal development), bimbingan yang berhubungan dengan pendidikan (education), dan bimbingan yang berhubungan dengan pemilihan pekerjaan atau bimbingan karier (vocational). Untuk dapat memenuhi fungsinya, beberapa tugas minimal yang harus dilakukan BK antara lain: Pertama, membantu anak supaya berhasil dalam studinya dengan cara memberi test yang sesuai untuk mengetahui intelegensi dan kemampuan anak. Kedua, menyelidiki minat dan latar belakang anak supaya diketahui latar belakang ekonomi, sosial, dan kebudayaan anak.


Ketiga, membantu memecahkan masalah-masalah yang mengganggu kelancaran studi anak, misalnya masalah keluarga, masalah pribadi, masalah belajar dan masalah pergaulan. Termasuk menekan dan menjauhkan anak dari masalah-masalah yang dapat mengganggu belajarnya dengan cara pengisian waktu luang, membantu dalam pemilihan hobi, membantu dalam bergaul, membantu memelihara kesehatan mental dan fisik serta mengadakan bimbingan secara individual maupun kelompok. Keempat, membantu anak dalam pemilihan pekerjaan dengan memberikan informasi mengenai jenis-jenis jabatan, memberikan informasi macam-macam perguruan tinggi serta mengajak anak-anak mengunjungi instansi-instansi ataupun industri-industri. Kelima, mengadakan kunjungan rumah guna memberi informasi kepada orang tua/wali tentang anaknya, dan meminta kerja sama orang tua/wali dalam ikut membantu pemecahan masalah anaknya di rumah maupun di sekolah.


Seorang guru BK, tak hanya harus memahami fungsi, tujuan dan perannya semata. Namun, dia harus khusus tanpa dibebani semisal tugas mengajar mata pelajaran di kelas dan merangkap jabatan lain di sekolah. Pun, guru BK haruslah benar-benar mereka yang kompeten. Artinya, BK membutuhkan tenaga-tenaga ahli, minimal ahli psikologi pendidikan dan bimbingan. Bahkan, untuk lebih bagus dapat ditambah dengan ahli di bidang pekerjaan sosial, dokter dan tenaga administrasi serta didukung fasilitas memadai untuk melakukan kegiatan yang bisa disejalankan dengan tujuan pendidikan.


Benar memang, untuk mengoptimalkan BK butuh biaya besar dan mahal. Namun bila dihayati dan dicermati secara seksama, bahwa guru BK eksistensinya sangat diperlukan. Apalagi kini kita dalam era globalisasi. Ke depan permasalahan semakin kompleks, baik lingkup internasional, regional, maupun nasional. Dampak dari semua itu akan berpengaruh terhadap perkembangan anak didik. Tingkat kerawanan yang menimpa anak didik perlu selalu dikhawatirkan, dan guru BK bertanggungjawab secara moral untuk mengantisipasi lalu memberikan bekal agar anak didik memiliki kekebalan terhadap bermacam-macam penyakit sosial.


Kita semua harus sepakat. Mungkin saatnya semua yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan (pemerintah, legislatif dan pakar di bidang pendidikan) untuk bersama-sama mulai berfikir bagaimana memberdayakan wadah BK di sekolah-sekolah. Harapan minimalnya, ya dapat menekan keinginan-keinginan anak yang kurang menguntungkan. Jika anak didik sudah diberikan bekal yang cukup, maka apapun dampak dari modernisasi akan dapat disaring secara positif sehingga semua itu menjadi proses pembelajaran agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara dewasa. Ini berarti, tanggungjawab peningkatan mutu pendidikan tersebut merupakan tugas kita bersama. Kelak, kita berharap berita miris seperti yang sudah terjadi tidak terdengar lagi. Semoga.***
Readmore Baby...

Doa'ku

Ya Tuhanku Yang Maha Kuasa
Aku berdoa untuk seorang istri, yang akan menjadi bagian dari hidupku

Seorang istri yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang istri yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang istri yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Seorang istri yang mempunyai sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menauladani sifat-sifat AgungMu
Seorang istri yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa dia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia
Seorang istri yang memiliki hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas
Seorang istri yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku
Seorang istri yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah
Seorang istri yang mencintaiku bukan karena harta dan ketampananku tetapi karena hatiku
Seorang istri yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi
Seorang istri yang dapat membuatku merasa bagai seorang laki-laki ketika berada di sebelahnya
Seorang istri yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang istri yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang istri yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya
Seorang istri yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang laki-laki yang dapat membuat istri itu bangga
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMu, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMu, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah aku sifatMu yang lembut sehingga ketampananku datang darimu bukan dari luar diriku
Berikan aku tanganMu sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatanMu sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja
Berikanlah aku mulukMu yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMu dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setia hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan "Betapa Besarnya Engkau Karena Telah Memberikan Kepadaku Seseorang Yang Dapat Membuat Hidupku Menjadi Sempurna"
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah tepat pada waktu yang Kau tentukan
Readmore Baby...

Jumat, Mei 01, 2009

MENIKAHLAH DENGANKU

Si gadis sontak memerah kala lelaki itu melontarkan kata-kata tersebut. Senang dan bimbang bergejolak jadi satu. Senang karena sebagai seorang wanita tentunya hal tersebut sangat menyentuh perasaan. Diajak menikah dengan seseorang yang dicintai adalah suatu kehormatan tersendiri, permintaan yang tak tergantikan dengan berjuta keindahan yang lain. Namun usia yang masih belum cukup matang membuat si gadis bimbang. Bimbang karena masih belum yakin apakah lelaki tersebut adalah yang terbaik untuknya. Ataukah masih ada lelaki lain diseberang waktu yang ternyata lebih baik lagi untuk dia anggukkan kepala kala kata ajakan tersebut terlontar.

Dan, si gadis memilih untuk menunggu waktu yang menurutnya tepat. Sembari menanti lelaki lain diseberang waktu yang mungkin ada. Kemudian pergilah sang lelaki tersebut, meninggalkan si gadis yang sesaat tertegun sedih.

Namun ternyata ketertegunan itu tidak sesaat, berkepanjangan, bahkan bertahun-tahun lamanya kesedihan masih bergelayut di wajah cantik si gadis. Aku bodoh! Kenapa tidak aku terima tawaran menikah itu sehingga tidak perlu kehilangannya. Kehilangan lelaki yang ternyata teramat dia cintai dan dia butuhkan untuk menemani sisa harinya di dunia ini. Semakin sedih lagi kala si gadis tahu bahwa beberapa lelaki yang dia temui diseberang waktu ternyata belum ada yang bisa menggantikan sosok si lelaki. Sosok ideal yang dia harapkan sebagai penanam benih di rahimnya kelak.

Nasi sudah menjadi bubur, dan si gadis harus mulai sadar dengan keadaan yang ditawarkan. Melupakan si lelaki dan mulai menyambut kehadiran yang lain, atau diam terpaku di depan pintu kebahagiaan yang telah tertutup untuknya.

Memilih yang lain. Itulah akhirnya yang menjadi pilihan si gadis, kala dia menemukan sosok unik yang lain. Sosok yang bisa membuatnya terlupa akan segala kesedihan di masa lampau. Sosok yang kemudian dengan berjalannya waktu juga menyampaikan kata keramat yang sama,

“MENIKAHLAH DENGANKU”

Sontak si gadis menganggukkan kepala, merangkul penuh haru lelaki tersebut, dan menulis sebuah janji dalam hati bahwa tak akan dia sia-siakan tawaran si lelaki dengan menyia-nyiakan kehidupan mereka berdua kelak. Ya! Belajar dari pengalaman, si gadis tak lagi bimbang dan menunggu sesuatu di ujung waktu yang belum jelas ujudnya. Si gadis sudah cukup merasa nyaman berada disamping lelaki yang ini, dan itu sudah cukup buatnya.

Namun ternyata, garis hidup berkata lain.

Mereka berdua tak pernah melaju ke jalan pelaminan. Janji yang tertulis, kandas di hantam sebuah ombak perbedaan yang tak bisa ditoleransi oleh kokohnya karang cinta.

Dan belajar dari pengalaman lagi, si gadis tak mau berdiam diri terlalu lama di pintu kebahagiaan yang telah tertutup paksa untuknya. Dia segera pergi dan berlalu dari situ, dan mulai menemui lelaki-lelaki lain lagi diseberang waktu.


Banyak, teramat banyak bahkan yang datang kepadanya. Namun tak satupun yang bisa menggetarkan hati si gadis. Bukan karena dia masih terbelenggu oleh sosok di masa lampau, namun si gadis mulai selektif.

Lelaki satu, baik, kaya, namun termasuk pria manja. Dan si gadis tak menyukainya, maka beralihlah dia.

Lelaki kedua, baik, tidak manja, tidak romantis. Si gadis masih berlalu

Lelaki ketiga, baik, romantis, tidak manja, tidak juga kaya. Si gadis tetap berlalu

Lelaki ke empat, baik, romantis, tidak manja, kaya, namun tidak dewasa. Dan….. si gadis…. Mulai merasa lelah.

Terpekur sendiri disepinya waktu.

Haruskah aku bersyukur atau menyesal???

Disyukurinya bahwa hingga detik ini dia bahkan tak pernah benar-benar tahu apa itu arti tidak dicintai. Namun kenapa lelaki-lelaki yang datang itu selalu sosok yang bukan dia inginkan?? Kenapa pada saat dia sudah menemukan sesuatu yang pas, tetap saja itu harus terenggut darinya??

Si gadis terdiam, mencoba mencari sendiri akan jawaban pertanyaannya itu.

Hingga akhirnya dia menemukan jawab tersebut.

Yang harus aku sesali adalah kebodohanku sendiri. Kebodohan yang tidak pernah melihat sesuatu dengan hati. Kala hati berdengung keras mengatakan tentang pilihannya, dia abaikan hanya karena sebuah pemikiran yang didasari oleh pandangan kasat mata yang serampangan dalam menentukan sebuah nilai. Bukankah Tuhan memberikan sesuatu itu atas dasar apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan oleh umatnya? Karena Tuhan pulalah yang paling tahu apa yang menjadi kebutuhan sang umat tersebut.

No body’s perfect rite?

Kemudian berkacalah si gadis di sebuah cermin kejujuran, dan ditemukan banyak kekurangan dalam dirinya. Teramat banyak malah. Jadi, sangat tidak fair jika si gadis kemudian menuntut sebuah kesempurnaan dibalik kekurangan diri yang sangat banyak itu.

Aah… sekarang aku tahu jawabnya!

Sebuah jawab yang kelak disampaikan kepada lelaki itu kala berucap,

MENIKAHLAH DENGANKU!


Ps : aku dedikasikan buat seorang kawan yang masih ragu akan kata hatinya. Hidup terlalu indah untuk diisi dengan printilan-printilan masalah yang tidak penting untuk dibahas sob!
Readmore Baby...

WANITA SHOLEHAH

Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan terbaik adalah wanita sholehah. Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah SWT.

Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan terbaik adalah wanita sholehah. Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat iaitu :

1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami

Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut :

1. Taat kepada Allah dan RasulNya

Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada mahram bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami

- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
- Tidak bermasam muka di hadapan suami
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan & kecantikannya serta rumah tangga

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairanlah jika banyak wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: ertinya:

” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”

Sabda Rasulullah s.a.w.: ertinya:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia.
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: ertinya:

” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir.”
3) Mudah terpedaya dengan syahwat.
4) Lemah iman.
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang terbaik adalah Wanita yang solehah.
Readmore Baby...

Rebutlah Gelar Wanita Sholehah

Pertama-tama adalah mesti engkau sadari, bahwa sesungguhnya aku tak akan menilai kecantikan wajahmu dibalik jilbab yang engkau kenakan, serta harta yang kau miliki sebagai daya tarik untuk menikahimu. Tapi kecantikan hati, perilaku, serta ketaatanmu kepada Dienul Islam itu yang utama. Memang hal ini sangat musykil di zaman yang telah penuh dengan noda-noda hitam akibat perbuatan manusia, sehingga wanita-wanitanya sudah tidak malu lagi untuk menjual kecantikannya dan berlomba-lomba memperlihatkan aurat dengan sebebas-bebasnya demi memuaskan hawa nafsu jahatnya. Namun itulah yang diajarkan Rasulullah SAW, kepada kita melalui haditsnya :

Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula kamu peristrikan wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat menghinakan dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikan wanita atas dasar Diennya. Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi Dienya lebih baik, lebih patut kamu peristrikan “. (HR. Bukhori)

Dan Allah pun tak akan melihat kebagusan wajah dan bentuk jasadmu. Tapi Dia menilai hati dan amal yang kau lakukan. Hendaknya engkau yakin bahwa wanita-wanita salafusshaleh adalah panutanmu, yang telah mendapat bimbingan dari nabi Muhammad SAW.

Contohlah Ummu Khomsa yang tersenyum gembira mendengar anak-anaknya gugur dalam medan pertempuran. Tentunya engkau heran, mengapa seorang ibu seperti itu ? jawabnya adalah karena ia yakin bahwa jannah telah menanti anaknya di akhirat, sedangkan engkau tahu, tak seorangpun yang tidak menginginkan akhir hidup di tempat yang penuh kenikmatan itu.

Katakanlah kepada anak-anakmu kelak :

…janganlah engkau bimbang dan ragu wahai anakku, kalau kamu syahid daripada sibuk mengumpulkan harta dan memburu pangkat. Maka kalau kamu ingin termasuk ke dalam golongan-golongan pejuang ISLAM yang benar-benar memperjuangkan hak Allah dan Rasul-Nya. Serahkan dirimu dan ketaqwaan yang kuat dan tanamkan pula dalam hatimu iman serta keinginan untuk menemuin-Nya secara syahid. Bayangkanlah bahwa jannah sedang menanti, bersama para bidadari yang sedang berhias menanti kekasih-kekasihnya, yaitu kamu sendiri. Seperti Firman Allah :

“ Dan didalam Jannah itu ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik” (QS 56 : 22-23)

Ajarkanlah pada anak-anak kita kelak, bahwa hidup dalam ISLAM tidak berarti mencari kenikmatan semu di dunia ini sehingga mereka bersenang-senang didalamnya dan lupa akan Akhirat. Padahal Rasulullah mengajarkan “ Addunya mazra’atul akhiroh (Dunia adalah ladangnya akhirat). Jadi dunia bukan tujuan akhir, tapi hanya sekedar jembatan untuk menuju kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal sehingga mereka mengerti bahwa mencari keridhoan Allah berarti pengorbanan yang terus menerus, Seperti Firman-Nya :

“ Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah maha penyantun kepada hamba-hambanya”. QS. Al Baqarah : 207

Akhirnya merekapun tahu bahwa jalan yang mereka pilih itu tidak menjanjikan harta di dunia ini yang banyak, rumah mewah, kendaraan yang banyak, atau kasur-kasur yang empuk, pangkat dan wanita, tapi jalan mereka semua adalah jalan yang penuh dengan duri-duri cobaan serta seribu satu macam tantangan. Karena Allah tidak akan memberi Jannah kepada kita dengan harga yang murah.

Berdo’alah kepada-Nya agar engkau lahirkan kelak dari rahimmu seorang anak pewaris perjuangan nabi-nabi-Nya yang senantiasa mereka mendo’akan kita. Didiklah mereka agar taat dan berbuat baik kepada kita serta tidak menyekutukan Allah, seperti yang diwasiatkan Luqman kepada anak-anaknya (31:31). Fahamkan mereka bahwa pewaris perjuangan Rasul dan Nabi bukanlah berarti mereka hanya menjadi pejuang di medan jihad, tapi juga seorang abid (zuhud) di malam hari. Anak kita kelak adalah amanah dari-Nya oleh sebab itu Allah akan murka seandainya kita menyia-nyiakannya. Pembentukan pribadi anak itu sangat tergantung kepada kita yang mendidiknya. Apakah ia akan menjadi orang yang beriman atau sebaliknya. Hendaklah engkau perhatikan makanan untuk mereka, pergaulannya serta pilihkan pendidikan yang mereka ikuti.

Jadilah engkau seperti Siti Maryam yang dapat mendidik Isa a.s. di tengah-tengah cemoohan dan cacian masyarakat. Atau Siti Aisyah yang dapat memupuk keimanan Musa a.s. di dalam istana yang penuh dengan kedurhakaan dan kekufuran. Kemudian Masyitoh yang mampu memantapkan hati anak-anaknya walaupun harus menghadapi air yang mendidih demi kebenaran. Atau deperti Siti Khadijah R.ha. Aisyah R.ha, Sayidina Fatimah R.ha yang membesarkan anak-anaknya di tengah-tengah kemiskinan.

Bila engkau telah memahami tugas terhadap anak-anakmu dalam Islam, maka mudah-mudahan Allah akan memberkahi ktia dengan memberikan anak-anak yang sholeh, yang bersedia mengorbankan nyawanya demi mematuhi perintah Allah, seharusnyalah engkau faham juga bahwa dunia ini adalah perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita sholehah.

Dan salah satu ciri yang harus engkau miliki jika ingin menjadi wanita sholehah dan bersedia untuk taat terhadap suamimu kelak seperti Firman-Nya dalam surat An-Nisaa :34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita dan istri yang baik adalah mereka yang setia (taat) kepada suami dan selalu memelihara kehormatannya selama suaminya tidak ada di rumah.

Hendaklah engkau berbeda dengan wanita-wanita saat ini yang benyak melalaikan suami dan anak-anaknya, mereka lebih sibuk dengan karir, arisan, undangan, atau menyia-nyiakan uang dan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, serta cenderung pamer wajah dan aurat kepada yang bukan muhrimnya. Carilah ridha suami dengan cara-cara yang telah diyariatkan Islam, karena Rasulullah telah bersabda :

“ Wahai Siti Fatimah, kalau engkau mati dalam keadaan Ali tidak ridha padamu, niscaya aku ayahandamu tidak akan menyolatkanmu “.

Jadilah engkau perhiasan yang tinggi nilainya di dalam rumah tangga, sumber penyejuk dan kebahagiaan hati suami, berhiaslah engkau untuk menyenangkan suami, jagalah hatinya agar engkau tak menyakiti dia. Walaupun dengan hal-hal yang kecil. Katakan kepadaku jika akan berangkat mencari nafkah :

“ Wahai suamiku carilah rezeki yang halal disisi Allah, janganlah engkau pulang membawa rezeki yang haram untuk kami. Kami rela berlapar dan hidup susah dengan makanan yang halal.”

Dan janganlah engkau cegah, jika aku hendak meninggalkanmu berhari-hari karena memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Tabahlah seperti tabahnya Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan Ibrahim a.s. ditengah padang pasir yang tandus. Jika aku mengikuti jejak yasir, maka ikutilah di belakangku sebagai sumayyah, bila kukatakan kepadamu “perjuangan itu pahit” maka jawablah olehmu “Jannah itu Manis”

Sudah kiranya yang ingin aku sampaikan padamu, hendaklah engkau pahami dan ikuti seperti yang telah aku tunjukkan kepadamu tapi harus diingat bahwa engkau melakukannya karena Allah bukan karena aku, semoga Allah meridhoi kita dan memberi kemudahan dalam mengikuti petunjuknya, amin.
Readmore Baby...

Warkah Buat Istriku

Assalamualaikum warahmatullah…
Keagungan Tuhanmu mengatasi segalanya. Oleh itu patuhilah segala perintahNya lantaran kau terpilih dijadikan cuma sebagai hamba dan jauhilah laranganNya untuk menunjukkan kasihmu terhadapNya. Perhatikan segala amanahNya buatmu kerana amanahNya perlu kau dahulukan daripada amanah makhluk-makhlukNya. Selamatlah dirimu tika mana kau memilih jalan Taqwa dan meninggalkan perangkap maksiat dan kehinaan. Istriku! berimanlah dikau dengan Allah yang Maha Agung. Yakinilah pada ajaran dan sunnah Rasulullah saw. Berpeganglah pada dustur yang mengajarmu tentang tarekat hidupmu lantas katauhidanmu akan mengikat Taqwa dan imanmu terhadap penciptamu. Yakinilah bahawa setiap perkhabaran para Rasul itu benar sekalipun berita yang di bawa itu bukan cuma berita gembira.

Istriku,

Engkau adalah anak pasca alaf kemodenan. Paling tidak engkau adalah generasi akhir zaman. Oleh itu janganlah engkau sia-siakan zaman mudamu dengan hiburan dunia yang melekakan. Penuhilah dadamu dengan ilmu. Tidak rugi engkau menjadi seorang yang berilmu seperti beberapa tokoh serikandi Islam yang pernah melakarkan sumbangan mereka terhadap Tamadun Islam.

Lihat saja Saidatina 'Aisyah .a yang terdidik oleh Madrasah Rasul. Dia betah menjawab persoalan-persoalan yang diajukan lantaran kefaqihannya yang terbukti. Mengimbaskan nosstlgia Saidatina Khadijah .a pasti kita terpana akan perngorbanannya yang sukar untuk ditandingi. Pun begitu menyorot kezuhudan dan agung kasih serta cintanya terhadap Ilahi tentu sahaja engkau pernah mendengar akan nama Rabiatul Adawiyah. Kesemua mereka itu adalah wanita. Beruntunglah engkau duhai istriku jika engkau menyusuli jejak mereka. Aku sengaja menampilkan peribadi-peribadi tadi bukan untuk menghasut cemburumu, malah aku mahukan engkau menaladeni jejak mereka. Tidak salah untukmu terjun ke medan jihad kerana ikhlasmu untuk menegakkan agama Allah. Aku tidak mengajar engkau untuk takut akan mati syahid. Pernahkah engkau mendengar kalam seorang mujahid tentang perjuangan?

Telah berkata As-Syeikh Abdul Qadir Audah: "Jika aku dipenjarakan kerana perjuangan suci ini. Aku boleh beruzlah. Jika aku dibuang daerah. Aku boleh melancong percuma dan jika aku dibunuh kerana perjuangan yang benar ini maka aku dapat bertemu Tuhanku sebagai seorang syuhada'."

Berbicara soal perjuangan merupakan suatu realiti kerana hidup ini adalah sebuah perjuangan. Perjuangan membebaskan diri dari cengkaman kekufuran terhadap Ilahi. Perjuangan menundukkan hawa nafsu yang sering meronta di dalam diri. Perjungan di titian kesabaran mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan Tuhan. Perjuangan mendidik diri menjadi seorang hamba dan perjuangan untuk merintis serta mengembalikan kedaulatan Daulah Islamiah yang telah lama hilang. Ya… itulah tugas utama kita. Itulah amanah yang perlu kita lunaskan semenjak kejatuhan Khilafah Islamiah Turkey Uthmaniah pada tahun 1924M. Maka sehinggalah perjuangan murni itu mencapai noktahnya yang entah bila janganlah engkau menyimpangkan diri dan hatimu dari terus bersama dalam ribat Jamaah Islam.

Istriku,

Sampai masanya nanti engkau bakal menjadi seorang isteri dan seterusnya bergelar seorang ibu. Usahlah engkau ragui akan jodohmu kerana lelaki soleh itu adalah untuk wanita solehah. Dari itu jika engkau mengidamkan bakal suamimu sehebat Saidina Ali k.w jadikanlah dirimu laksana semulia Fatimah al-Zahra'. Aku nukilkan kata-kata Asma' binti Kharizah Fazari .a. diriwayatkan bahawa ia telah berkata kepada istrinya pada hari perkahwinan anaknya, "Wahai anakku, kini engkau akan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenali. Itulah suami mu.Jadilah engkau tanah bagi suamimu (dengan mentaat perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagi mu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebaninya dengan berbagai kesukaran kerana itu akan memungkinkan ia meninggalkan mu. Kalau ia mendekatimu,dekatilah ia dan jika ia menjauhi mu maka jauhilah ia dengan baik.Peliharalah benar-benar suamimu itu akan hidungnya, pendengarannya, matanya dan lain-lain. Janganlah pula ia mendengar melainkan yang enak dan janganlah ia melihat melainkan yang indah sahaja daripada dirimu.

Kehidupan berumah tangga adalah amanah sebenarnya. Bukan sekadar pengkongsian kebahagiaan semata-mata malah berkongsi segalanya sehinggalah manusia menyedari tanggung jawab masing-masing sebagai suami isteri. Taatilah suamimu dalam taqwamu terhadap Allah. Janganlah sesekali engkau menderhakai suamimu. Ingatlah wahai istriku sesungguhnya Baginda Rasul saw pernah bersabda: "Aku lihat api neraka, tidak pernah aku lihat seperti hari ini, kerana ada pemandangan yang dahsyat di dalamnya. Telah aku saksikan kebanyakkan ahli neraka ialah wanita." Rasulullah s.a.w. ditanyai, "Mengapa demikian wahai Rasulullah?" Jawab Rasulullah s.a.w. "Wanita mengkufurkan suaminya dan mengkufurkan ehsannya. Jika engkau berbuat baik kepadanya seberapa banyak pun dia masih belum rasa berpuas hati dan cukup." Usahlah engkau merasa pilu dengan perkhabaran-perkhabaran tadi. Persiaplah dirimu kerana walaupun kebanyakan penghuni neraka adalah dari kalangan wanita lantaran mereka dari golongan wanita-wanita yang jahat. Namun masih ada ruang untuk wanita mendapat syurga. Jadilah wanita yang baik. Jadilah wanita yang mentaati perintah Tuhan dan suaminya. Jadilah wanita yang menjadi ibu yang baik.

Istriku,

Puisi ini untukmu…

Kaulah mawar idaman
Tumbuhmu di taman larangan
Mekarmu dipagari dan dibajai
Sesucinya hatimu seindah akhlakmu
Diciptakan sebagai seorang wanita
Mewarisi kelembutan wanita solehah

Kembangmu tetap indah
Walau cuma di taman larangan
Menyinarkan nur keimanan
Nan mekar dihiasi mahmudah
Berkat asuhan ayah bonda

Kaulah serikandi ummah
Akhlakmu permata diri
Peliharalah maruah dan budi
Nescaya kaulah yang bernama
Wanita Sejati
Kebanggaan ayah bonda…


Istriku,

Barangkali engkau sudah bosan membaca warkahku ini. Aku tidak pasti bilakah masanya engkau bakal membaca warkahku ini. Kalau engkau membacanya a aku masih di sampingmu maka anggaplah ini pesanku buatmu wahai istriku.

Untuk mengakhiri warkahku ini aku juga ingin berpesan sebagaimana Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya…

Telah berpesan Luqman Al-Hakim kepada anaknya, "Sepanjang hidupku. Aku hanya memilih 8 kalimah dari pusaka para Nabi yang lalu iaitu :-

"Apabila engkau sedang solat kepada Allah s.w.t. maka jagalah baik-baik fikiranmu.
Apabila engkau berada di rumah orang lain, maka jagailah pandanganmu.
Apabila engkau berada di tengah-tengah majlis maka jagalah lidahmu.
Apabila engkau hadir dalam jamuan makan maka jagalah perangai dan adabmu.
Ingatilah kepada Allah s.w.t.
Lupakan budi baikmu terhadap orang lain.
Lupakanlah semua kesalahan orang lain terhadapmu.
Sentiasalah mengingati mati."



Glosari:

Dustur - pegangan
Tarekat - jalan, cara
Muyul - cenderung
Kalbu - hati
Muhim - penting
Aham - lebih penting
Ghalib - kebiasaan
Ajnabi - orang asing, bukan mahram
Ikhtilat - pergaulan, hubungan
Ribat - kesatuan
Isti'dat - persediaan
Imtihan - peperiksaan
Readmore Baby...

TAATILAH SUAMIMU

Pernikahan adalah salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada laki-laki
dan perempuan dengan kadar yang sama dan berimbang, ia adalah wujud
kecintaan, kasih sayang, mementingkan pasangan, saling memberi dan menerima,
hal itu terbaca jelas dalam firman Allah,

*"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir." *(Ar-Rum: 21).

Demi menjaga kelanggengan kasih sayang dan hubungan baik antara suami istri
maka Allah meletakkan hak bagi masing-masing atas pasangannya. Firman Allah,


*"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan
daripada istrinya." *(Al-Baqarah: 228).

Istri mempunyai hak-hak atas suami yang tidak sedikit yang wajib diberikan
oleh suami kepadanya, jika suami tidak menunaikannya maka hal itu dianggap
sebagai dosa dan kemaksiyatan yang tidak ringan di sisi Allah. Sebaliknya
suami memiliki hak-hak atas istri sebanding dengan hak istri atas suami, di
antara hak-hak suami adalah hendaknya seorang wanita muslimah menjadi istri
yang patuh dan taat kepada suaminya dengan menunaikan hak-haknya
sebaik-baiknya.

*Besarnya hak suami atas istri*

Hak suami atas istri adalah besar, kedudukannya di hadapannya adalah agung,
hal itu tergambar dengan jelas melalui:

*A.* Perintah Rasulullah saw kepada istri agar bersujud kepada suami
seandainya makhluk boleh bersujud kepada makhluk.

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda, *"Seandainya aku memerintahkan
seseorang bersujud kepada orang lain niscaya aku memerintahkan istri agar
bersujud kepada suaminya."* HR at-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits hasan."
Al-Arnauth berkata, "Sanadnya hasan."

*B.* Murka yang di langit kepada istri yang menolak permintaan suami untuk
bermesraan, murka ini redah jika suami ridha kepada istri.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, *"Demi dzat yang jiwaku
berada ditanganNya, tidak ada seorang suami mengajak istri ke ranjangnya
lalu istrinya menolaknya kecuali yang di langit memurkainya sehingga suami
ridha kepadanya ."*

*C.* Penunaian ibadah-ibadah sunnah oleh istri bergantung kepada izin dan
lampu hijau suami jika ibadah-ibadah tersebut menghalangi hak suami.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, *"Tidak halal bagi wanita
berpuasa sementara suaminya hadir kecuali dengan izinnya. Dan hendaknya dia
tidak mengizinkan di rumahnya kecuali dengan izinnya."*

Khusus dalam hal ini terdapat teladan dari Aisyah istri Rasulullah saw,
Aisyah berkata, "Aku pernah berhutang puasa Ramadhan, aku baru bisa
melunasinya di bulan Sya'ban hal itu karena kedudukan Rasulullah saw." (HR.
Jamaah).

*D. *Menghadirkan seseorang di rumah suami bergantung kepada restu suami.
Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah di atas,

*"Dan hendaknya dia tidak mengizinkan di rumahnya kecuali dengan izinnya."*

Juga berdasarkan hadits Amru bin al-Ahwas as-Sahmi bahwa dia mendengar sabda
Nabi saw pada haji wada'.


*"Hendaknya mereka tidak mengizinkan di rumahmu bagi orang yang tidak kamu
sukai."* (HR. at-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits hasan shahih.")

*E.* Izin khulu' –menuntut berpisah dari istri dengan membayar iwadh (ganti
rugi)- dalam kondisi istri takut tidak mampu menunaikan hak-hak suami
seperti yang dilakukan oleh istri Tsabit bin Qais.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata, istri Tsabit bin Qais
datang kepada Rasulullah, dia berkata, "Ya Rasulullah, aku tidak membenci
agama dan akhlak Tsabit, hanya saja aku takut kufur dalam Islam." Rasulullah
bertanya, "Apakah kamu mau mengembalikan kebunnya kepadanya?" Dia menjawab,
"Ya." Maka Nabi saw meminta Tsabit berpisah darinya.
Apa yang dilakukan istri Tsabit ini merupakan tindak lanjut dari firman
Allah,

*"Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu
berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat
menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami
istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas
keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus
dirinya." *(Al-Baqarah:
229).

*F.* Ihdad (berkabung) hanya boleh tiga hari tetapi untuk suami –maksudnya
jika suami yang meninggal- maka masa ihdad lebih panjang yaitu empat bulan
sepuluh hari. Rasulullah saw bersabda,


*"Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir
berihdad atas mayit lebih dari tiga malam kecuali atas suami yaitu empat
bulan sepuluh hari."* (Muttafaq alaihi dari Ummu Habibah dan Zaenab binti
Jahsy).

*G.* Tatanan iddah (masa tunggu) bagi istri yang berpisah dari suami, di
mana dalam masa ini istri belum boleh menerima lamaran dari orang lain
karena hak suami dan suami tetap dinamakan suami yang memegang hak rujuk
jika berpisahnya masih memungkinkan untuk rujuk. firman Allah,

*"Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali
quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam
rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Dan
suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para
suami) menghendaki ishlah." *(Al-Baqarah: 228).

*Keutamaan taat kepada suami*

Suami muslim sebagai penanggungjawab rumah tangga mendambakan kehidupan
rumah tangga yang tenteram, diliputi dengan cinta dan kasih sayang demi
mewujudkan kebahagiaan bagi seluruh anggota rumah tangga dan salah satu
faktor penting dalam mewujudkan hal tersebut adalah kepatuhan dan ketaatan
seorang istri muslimah kepada suaminya setelah ketaatannya kepada Allah dan
RasulNya.

Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah tangga seandainya istri tidak taat
dan patuh kepada suami, kebahagiaan yang diimpikan akan lenyap, kegembiraan
yang didambakan akan terkubur dan kasih sayang yang diharapkan tumbuh subur
akan layu untuk selanjutnya mati tergantikan oleh percekcokan, perselisihan
dan pertengkaran. Hal ini dipicu oleh –salah satunya- keengganan dan
penolakan istri untuk taat kepada suaminya.

Keutuhan rumah tangga sangat diperhatikan oleh Islam karena bagaimanapun
rumah tangga yang utuh jauh lebih baik dari pada rumah tangga yang bubar di
tengah jalan, dari sini kita memahami ketika talak diizinkan, ia diizinkan
dalam kondisi dharurat dan itu pun demi kebaikan dan kemaslahatan suami dan
istri. Demi menjaga keutuhan rumah tangga ini Islam meletakkan
batasan-batasan hak dan kewajiban bagi dan atas suami istri, misalnya dari
sisi istri, dia memiliki kewajiban taat dan patuh kepada suaminya.

Jangan salah paham ketika istri diharuskan taat kepada suami setelah
ketaatannya kepada Allah dan RasulNya, ini tidak serta merta berarti derajat
istri lebih rendah atau ini merupakan perendahan kepada wanita, tidak
demikian karena pada prinsipnya hak dan kewajiban dalam rumah tangga adalah
setara dan sebanding sebagaimana telah penulis singgung dalam makalah
sebelumnya, akan tetapi ini hanyalah pengaturan dan penempatan masing-masing
dari suami dan istri pada pos yang memang sesuai dan sejalan dengan tabiat
dan fitrah masing-masing, tidak mungkin dalam satu kapal ada dua nahkoda dan
tentu yang paling pantas menjadi nahkoda adalah orang yang memiliki kriteria
dalam kadar lebih untuk itu, dan ini ada pada diri suami.

Di samping itu ketaatan dan kepatuhan istri tidak berbuah cuma-cuma, ada
imbalan besar lagi utama yang disediakan atasnya sebagai pendorong, akan
tetapi buah dan imbalan besar ini hanya bisa dipetik oleh istri-istri yang
beriman dengan baik kepada Allah yang dengannya dia lebih mementingkan apa
yang ada di sisiNya daripada selainnya.

*Ketaatan kepada suami adalah salah satu kunci masuk surga*.

Setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan tidak terkecuali istri tentu
berharap bisa meraih surga, kebahagiaan abadi yang tidak akan pernah
terputus untuk selama-lamanya, oleh karena itu dia akan berusaha menelusuri
setiap jalan yang bisa menyampaikannya kepadanya dan jalan ke sana memang
banyak, salah satunya secara khusus untuk istri yaitu ketaatannya kepada
suaminya.

Nabi saw bersabda,

*"Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya,
menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya niscaya dia akan masuk surga
dari pintu mana saja yang dia inginkan."* (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Adakah balasan yang lebih besar dan utama dari ini? Masuk surga, tidak
sebatas itu akan tetapi lebih dari itu, dari pintu mana saja yang dia
kehendaki. Belum cukuplah hal ini menggugah dan mendorongmu untuk taat dan
patuh kepada suamimu?

Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan bahwa
bibinya datang kepada Nabi saw untuk suatu keperluan, setelah dia selesai
dari keperluannya, Nabi saw bertanya kepada bibi al-Husain, "Apakah kamu
bersuami?" Dia menjawab, "Ya." Rasulullah bertanya, "Bagaimana dirimu
terhadapnya?" Dia menjawab, "Saya tidak melalaikannya kecuali jika saya
tidak mampu." Maka Rasulullah saw bersabda,

*"Lihatlah dirimu daripadanya, karena dia adalah surga dan nerakamu."*

Kadar kataatan istri kepada suaminya adalah salah satu tolok ukur
keberhasilannya dalam berumah tangga, sejauh mana dia taat kepada suaminya
sejauh itu pulalah nilai yang kedudukan wanita muslimah di sisi suaminya dan
tentu ia menambah kecintaan suami kepadanya. Bukankah ini yang kamu dambakan
wahai istri muslimah?

*Ketaatan kepada suami menandingi ibadah-ibadah besar*.

Dalam kitab *Usudul Ghabah* milik Ibnul Atsir dari Asma' binti Yazid binti
as-Sakan al-Asyhaliyah bahwa dia mendatangi Rasulullah SAW, sementara beliau
sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma' berkata, "Aku korbankan bapak
dan ibuku demi dirimu ya Rasulullah. Saya adalah utusan para wanita di
belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki
dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Kami para
wanita selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan
hasrat dan mengandung anak-anak kalian, sementara kalian – kaum laki-laki –
mengungguli kami dengan shalat Jum'at, shalat berjamaah, menjenguk orang
sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang
lebih utama dari adalah jihad fi sabilillah. Jika salah seorang dari kalian
pergi haji atau umrah atau jihad maka kamilah yang menjaga harta kalian,
yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami
menikmati pahala dan kebaikan ini sama seperti kalian?"

Nabi SAW memandang para sahabat dengan seluruh wajahnya. Kemudian beliau
bersabda, "Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang wanita yang lebih
baik pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?" mereka
menjawab, "Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa
bertanya seperti dia."

Nabi SAW menengok kepadanya dan bersabda, "Pahamilah wahai ibu. Dan beritahu
para wanita di belakangmu bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya
untuk memperoleh ridhonya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai
semua itu."
Wanita itu berlalu dengan wajah berseri-seri.

Lihatlah wahai para muslimah, Nabi saw mensejajarkan ketaatan istri kepada
suaminya, usahanya untuk mendapatkan keridhaannya dan kepatuhannya terhadap
keinginannya dengan amalan-amalan besar seperti shalat jumat, shalat
berjamaah, haji, umrah bahkan jihad di jalan Allah Taala. Saya berharap Anda
puas dengan ini karena jika tidak maka dengan apa Anda bisa puas?

*Ketaatan kepada suami adalah salah satu tanda keshalihan istri*

Menjadi muslimah yang shalihah adalah keinginan setiap istri dan suamipun
mendambakan yang sama, untuk mewujudkan keinginan ini mudah saja yaitu
dengan –salah satunya- mentaati suami, firman Allah, "Maka wanita yang
shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).
Ayat ini menetapkan bahwa ketaatan kepada Allah merupakan ciri dari wanita
shalihah, dan ketaatan kepada suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah
karena ia merupakan perintah Allah Taala.

Nabi saw bersabda,

*"Sebaik-baik wanita adalah wanita yang jika kamu melihat kepadanya maka
kamu berbahgia, jika kamu memerintahkannya maka dia mentaatimu, jika kamu
bersumpah atasnya maka dia memenuhinya dan jika kamu meninggalkannya maka
dia menjagamu pada diri dan hartamu."* (HR. an-Nasa`i)

*Terakhir apa batasan ketaatan istri kepada suami?*

Batasannya adalah perkara-perkara yang bukan merupakan kemaksiyatan kepada
Allah dan RasulNya, ini adalah batasan kataatan kepada makhluk di mana Allah
Taala memerintahkan mentaatinya dan salah satunya adalah suami. Tidak ada
ketaatan kapada makhluk dalam bermaksiyat kepada Khalik.

Nabi saw bersabda,


*"Tidak ada ketaatan dalam bermaksiyat kepada Allah, ketaatan itu hanya
dalam kebaikan."* (HR. Muslim)

Nabi saw bersabda,


*"…Kecuali jika dia diperintahkan kepada kemaksiyatan, jika dia
diperintahkan kepada kemaksiyatan maka tidak ada kata mendengar dan
mentaati."* (HR. Muslim)
Readmore Baby...

Keutamaan taat kepada suami

Suami muslim sebagai penanggungjawab rumah tangga mendambakan kehidupan rumah tangga yang tenteram, diliputi dengan cinta dan kasih sayang demi mewujudkan kebahagiaan bagi seluruh anggota rumah tangga dan salah satu faktor penting dalam mewujudkan hal tersebut adalah kepatuhan dan ketaatan seorang istri muslimah kepada suaminya setelah ketaatannya kepada Allah dan RasulNya.

Bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah tangga seandainya istri tidak taat dan patuh kepada suami, kebahagiaan yang diimpikan akan lenyap, kegembiraan yang didambakan akan terkubur dan kasih sayang yang diharapkan tumbuh subur akan layu untuk selanjutnya mati tergantikan oleh percekcokan, perselisihan dan pertengkaran. Hal ini dipicu oleh –salah satunya- keengganan dan penolakan istri untuk taat kepada suaminya.

Keutuhan rumah tangga sangat diperhatikan oleh Islam karena bagaimanapun rumah tangga yang utuh jauh lebih baik dari pada rumah tangga yang bubar di tengah jalan, dari sini kita memahami ketika talak diizinkan, ia diizinkan dalam kondisi dharurat dan itu pun demi kebaikan dan kemaslahatan suami dan istri. Demi menjaga keutuhan rumah tangga ini Islam meletakkan batasan-batasan hak dan kewajiban bagi dan atas suami istri, misalnya dari sisi istri, dia memiliki kewajiban taat dan patuh kepada suaminya.

Jangan salah paham ketika istri diharuskan taat kepada suami setelah ketaatannya kepada Allah dan RasulNya, ini tidak serta merta berarti derajat istri lebih rendah atau ini merupakan perendahan kepada wanita, tidak demikian karena pada prinsipnya hak dan kewajiban dalam rumah tangga adalah setara dan sebanding sebagaimana telah penulis singgung dalam makalah sebelumnya, akan tetapi ini hanyalah pengaturan dan penempatan masing-masing dari suami dan istri pada pos yang memang sesuai dan sejalan dengan tabiat dan fitrah masing-masing, tidak mungkin dalam satu kapal ada dua nahkoda dan tentu yang paling pantas menjadi nahkoda adalah orang yang memiliki kriteria dalam kadar lebih untuk itu, dan ini ada pada diri suami.

Di samping itu ketaatan dan kepatuhan istri tidak berbuah cuma-cuma, ada imbalan besar lagi utama yang disediakan atasnya sebagai pendorong, akan tetapi buah dan imbalan besar ini hanya bisa dipetik oleh istri-istri yang beriman dengan baik kepada Allah yang dengannya dia lebih mementingkan apa yang ada di sisiNya daripada selainnya.

Ketaatan kepada suami adalah salah satu kunci masuk surga.

Setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan tidak terkecuali istri tentu berharap bisa meraih surga, kebahagiaan abadi yang tidak akan pernah terputus untuk selama-lamanya, oleh karena itu dia akan berusaha menelusuri setiap jalan yang bisa menyampaikannya kepadanya dan jalan ke sana memang banyak, salah satunya secara khusus untuk istri yaitu ketaatannya kepada suaminya.

Nabi saw bersabda,



إِذَا صَلَّتِ المَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابَ الجَنَّةَ شَاءَتْ .



“Apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya niscaya dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Adakah balasan yang lebih besar dan utama dari ini? Masuk surga, tidak sebatas itu akan tetapi lebih dari itu, dari pintu mana saja yang dia kehendaki. Belum cukuplah hal ini menggugah dan mendorongmu untuk taat dan patuh kepada suamimu?

Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan bahwa bibinya datang kepada Nabi saw untuk suatu keperluan, setelah dia selesai dari keperluannya, Nabi saw bertanya kepada bibi al-Husain, “Apakah kamu bersuami?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah bertanya, “Bagaimana dirimu terhadapnya?” Dia menjawab, “Saya tidak melalaikannya kecuali jika saya tidak mampu.” Maka Rasulullah saw bersabda,


فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكَ وَنَارُكِ .



“Lihatlah dirimu daripadanya, karena dia adalah surga dan nerakamu.”

Kadar kataatan istri kepada suaminya adalah salah satu tolok ukur keberhasilannya dalam berumah tangga, sejauh mana dia taat kepada suaminya sejauh itu pulalah nilai yang kedudukan wanita muslimah di sisi suaminya dan tentu ia menambah kecintaan suami kepadanya. Bukankah ini yang kamu dambakan wahai istri muslimah?

Ketaatan kepada suami menandingi ibadah-ibadah besar.

Dalam kitab Usudul Ghabah milik Ibnul Atsir dari Asma’ binti Yazid binti as-Sakan al-Asyhaliyah bahwa dia mendatangi Rasulullah SAW, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu ya Rasulullah. Saya adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Kami para wanita selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat dan mengandung anak-anak kalian, sementara kalian – kaum laki-laki – mengungguli kami dengan shalat Jum’at, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang lebih utama dari adalah jihad fi sabilillah. Jika salah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan ini sama seperti kalian?”

Nabi SAW memandang para sahabat dengan seluruh wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?” mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia.”

Nabi SAW menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah wahai ibu. Dan beritahu para wanita di belakangmu bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhonya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.”
Wanita itu berlalu dengan wajah berseri-seri.

Lihatlah wahai para muslimah, Nabi saw mensejajarkan ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk mendapatkan keridhaannya dan kepatuhannya terhadap keinginannya dengan amalan-amalan besar seperti shalat jumat, shalat berjamaah, haji, umrah bahkan jihad di jalan Allah Taala. Saya berharap Anda puas dengan ini karena jika tidak maka dengan apa Anda bisa puas?

Ketaatan kepada suami adalah salah satu tanda keshalihan istri

Menjadi muslimah yang shalihah adalah keinginan setiap istri dan suamipun mendambakan yang sama, untuk mewujudkan keinginan ini mudah saja yaitu dengan –salah satunya- mentaati suami, firman Allah, “Maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34). Ayat ini menetapkan bahwa ketaatan kepada Allah merupakan ciri dari wanita shalihah, dan ketaatan kepada suami adalah bagian dari ketaatan kepada Allah karena ia merupakan perintah Allah Taala.

Nabi saw bersabda,


خَيْرُالنِّسَاءِ مَنْ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا أَمَرَتْهَا أَطَاعَتْكَ وَإِذَا أَقْسَمْتَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْكَ وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ.



“Sebaik-baik wanita adalah wanita yang jika kamu melihat kepadanya maka kamu berbahgia, jika kamu memerintahkannya maka dia mentaatimu, jika kamu bersumpah atasnya maka dia memenuhinya dan jika kamu meninggalkannya maka dia menjagamu pada diri dan hartamu.” (HR. an-Nasa`i)

Terakhir apa batasan ketaatan istri kepada suami?

Batasannya adalah perkara-perkara yang bukan merupakan kemaksiyatan kepada Allah dan RasulNya, ini adalah batasan kataatan kepada makhluk di mana Allah Taala memerintahkan mentaatinya dan salah satunya adalah suami. Tidak ada ketaatan kapada makhluk dalam bermaksiyat kepada Khalik.

Nabi saw bersabda,


لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوْفِ .



“Tidak ada ketaatan dalam bermaksiyat kepada Allah, ketaatan itu hanya dalam kebaikan.” (HR. Muslim)

Nabi saw bersabda,


... إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَطَاعَةَ .



“…Kecuali jika dia diperintahkan kepada kemaksiyatan, jika dia diperintahkan kepada kemaksiyatan maka tidak ada kata mendengar dan mentaati.” (HR. Muslim)
Readmore Baby...