Akhlak seorang istri terhadap suami adalah sebagai berikut:
Wajib mentaati suami, selama bukan untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
Al Bazzar dan Ath Thabrani meriwayatkan bahwa seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, “Aku adalah utusan para wanita kepada engkau: jihad ini telah diwajibkan Allah kepada kaum laki-laki; jika menang diberi pahala, dan jika terbunuh mereka tetap hidup diberi rezeki oleh Rabb mereka, tetapi kami kaum wanita yang membantu mereka, pahala apa yang kami dapatkan?” Nabi SAW menjawab, “Sampaikanlah kepada wanita yang engkau jumpai bahwa taat kepada suami dan mengakui haknya itu sama dengan jihad di jalan Allah, tetapi sedikit sekali di antara kamu yang melakukannya.”
Menjaga kehormatan dan harta suami
Allah SWT berfirman, “Maka wanita-wanita yangbaik itu ialah yang mentaati suaminya dan menjaga hal-hal yang tersembunyi dengan cara yang dipelihara oleh Allah.” (QS. An Nisa’:34)
Menjaga kemuliaan dan perasaan suami
Ketika Asma bin Kharijah Al-Fazariyah menyerahkan anak perempuanya kepada suaminya di malam pernikahannya, ia berkata,”Wahai anakku, sesungguhnya engkau telah keluar dari kehiduoan yang selama ini engkau kenal. Sekarang engkau akan berada di ranjang yang belum pernah engkau ketahui, bersama pasangan yang belum sepenuhnya engkau kenali. Karena itu, jadilah engkau bumi baginya dan dia akan menjadi langit bagimu, jadilah engkau hamparan baginya dan dia akan menjadi hamba sahaya bagimu. Janganlah engkau menentangnya, sehingga ia membencimu. Jangankah engkau menjauh darinya, sehingga ia melupakanmu. Jika ia menjauh darimu, maka menjauh pulalah engkau darinya, dan jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya; jangan sampai ia mencium darimu kecuali yang harum, janganlah ia mendengar kecuali yang baik, dan jangan ia memandang kecuali yang cantik.”
Melaksanakan hak suami, mengatur rumah dan mendidik anak
Anas r.a berkata, “Para sahabat Rasulullah SAW apabila menyerahkan pengantin wanita kepada suaminya, mereka memerintahkan agar melayani suami, menjaga haknya, dan mendidik anak-anak.”
Tidak boleh seorang istri menerima tamu yang tidak disenangi suaminya.
Seorang istri tidak boleh melawan suaminya, baik dengan kata-kata kasar maupun dengan sikap sombong.
Tidak boleh membanggakan sesuatu tentang diri dan keluarganya di hadapan suami, baik kekayaan, keturunan maupun kecantikannya.
Tidak boleh menilai dan memandang rendah suaminya.
Tidak boleh menuduh kesalahan atau mendakwa suaminya, tanpa bukti-bukti dan saksi-saksi.
Tidak boleh menjelek-jelekkan keluarga suami.
Tidak boleh menunjukkan pertentangan di hadapan anak-anak.
Agar perempuan (istri) menjaga iddahnya, bila ditalak atau ditinggal mati oleh suaminya, demi kesucian ikatan perkawinannya.
Apabila melepas suami pergi bekerja, lepaslah suami dengan sikap kasih, dan apabila menerima suami pulang bekerja, sambutlah kedatangannya dengan muka manis/tersenyum, pakaian bersih dan berhias.
Setiap wanita (istri) harus dapat mempersiapkan keperluan makan, minum, dan pakaian suaminya.
Seorang istri harus pandai mengatur dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya.
Readmore Baby...
Minggu, Mei 31, 2009
Akhlak Istri Terhadap Suami
Ciri Wanita Shalihah
Taat Kepada Suami
Kewajiban pokok seorang wanita (yang sudah bersuami) setelah ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya adalah taat kepada suaminya. Bahkan nilai ketaatan kepada Allah diukur dari seberapa jauh ia menyelesaikan kewajibannya terhadap suami. Disini akan disampaikan sedikit tentang ketaatan seorang wanita kepada suaminya, antara lain:
1. Kewajiban terhadap suami
Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya seorang istri belum (dikatakan) menunaikan kewajibannya terhadap Allah, sehingga menunaikan kewajibannya terhadap suami sepenuhnya. Dan andaikan (suaminya) memerlukannya diatas kendaraan tidak boleh menolaknya”. (HR. At Thabrani)
Istri-istri yang dapat melaksanakan kewajiban dan tugasnya dengan baik ikhlas serta penuh keimanan, mereka itulah yang mendapat balasan surga. Akan tetapi istri-istri yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana tuntunan Allah dan rasul-Nya, maka laknat yang akan didapat.
2. Menyenangkan suami dan kasih sayang terhadap anak
Istri yang shalihah tidak akan mengganggu suaminya hingga mengakibatkan kesusahan, tetapi sebaliknya ia akan berusaha menghilangkan kesusahan suaminya dan berusaha membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi.
3. Menjaga kehormatan diri dan menjaga harta suami saat tidak berada di rumah
“Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: Sebaik-baik wanita adalah jika kau pandang menyenangkanmu, jika kau perintah ia mentaatimu, jika kau tinggalkan ia menjagamu dalam harta dan menjaga dirinya”. (HR. Nasa’i dan lain-lain)
4. Tidak cemberut di depan suaminya
”Dari Abu Sa’id al Khudri ra. bersabda Rasulullah saw. ”Sesungguhnya apabila seorang suami menatap istrinya dan istrinya membalas pandangan (dengan penuh cinta kasih), maka Allah menatap mereka dengan pandangan kasih mesra, dan jika seorang suami membelai tangan istri maka dosa mereka berguguran diantara sela jemari mereka.” (HR. Maisaroh bin Ali)
5. Tidak menolak bila suami mengajaknya tidur
”Jika seorang suami menghendaki istrinya tidur di ranjang, mendadak menolak sehingga mengakibatkan suami marah kepadanya semalam suntuk, maka istri itu dikutuk oleh malaikat hingga pagi”. (HR. Bukhari Muslim)
6. Tidak keluar tanpa seijin suaminya
”Tiap istri keluar rumah tanpa izin suaminya, tetap dalam murka Allah, sehingga kembali ke rumahnya atau dimaafkan suaminya (pada riwayat lain) setiap malaikat yang ada di langit mengutuknya, dan apa saja yang dilaluinya selain jin dan manusia, sehingga kembali”. (HR. Khatib)
7. Tidak meremehkan pemberian suami, menutup rahasia keluarga serta tidak mencari alasan untuk bercerai
”Tiap istri yang minta cerai dengan suaminya (tanpa alasan yang dibenarkan) maka haram atasnya bau surga”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
8. Tidak mengeraskan suara melebihi suaminya
”Dan Ummar bin Khattab berkata Rasulullah bersabda: istri manapun mengeraskan suaranya melebihi suaminya, maka akan mendapat laknat dari segala sesuatu yang disinari matahari”.
9. Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
10. Tidak menerima tamu yang dibenci suami, apalagi bermesraan dengan lain
Rasulullah bersabda : ”Tidak dihalalkan bagi seorang istri yang beriman kepada Allah, untuk mengizinkan masuk ke ruamh suaminya, padahal suaminya benci. Dan tidak dihalalkan dia keluar rumah sedang suaminya tidak senang”. (HR. Hakim)
11. Senantiasa memelihara diri, kebersihan fisik, kecantikan, serta kebersihan rumah tangganya
Seorang istri yang shalihah jika dapat mempersembahkan semua ini kepada suaminya, maka dapat dipastikan, istri semacam ini disinyalir oleh Rasulullah sebagai hiasan hidup yang paling indah.
Beberapa hal yang mungkin dan harus diperhatikan, karena kalian akan memiliki problema rumah tangga: hormati suamimu dengan memberi kepuasan kepadanya, turuti pereintahnya baik-baik; awasi sorotan matanya, jangan sampai ia melihat sesuatu yang buruk dari padamu; perhatikan hidungnya, jangan sampai ia mencium bau kecuali bau yang sedap dan nyaman; jagalah waktu makannya, jangan sampai ia lapar karena gangguan lapar akan menimbulkan amarah; perhatikan waktu tidurnya, jangan sampai terganggu karena gangguan tidur akan membawa kemarahan; jagalah harta benda suamimu, adapun arti hemat adalah mengatur keluar masuknya dengan sebaik-baiknya; jagalah anak-anak dan keluarganya serta pembantu rumah tangga suamimu; janganlah menentang perintah suamimu, karena itu menyedihkan hatinya; jangan membuka rahasia suamimu, karena engkau akan selamat dari pembalasannya.
Readmore Baby...
Nasehat Pernikahan
Nasihat ini mengajarkan pada calon suami-istri untuk bisa mempelajari kenyataan hidup bahwa kebahagiaan bahtera rumah tangga hanya bisa digapai dengan pergaulan yang baik dan lemah lembut antar keduanya. Pergaulan yang baik akan mampu menghantarkan pasangan suami intri kepada masa – masa bahagia dan kehidupan yang menyenangkan.
Nasihat Untuk Calon Istri
Jagalah kemuliaanmu. Jangan pernah kamu menyakiti ayah dan ibumu. Bila kau menikah, maka hormatilah suamimu dan hargailah ucapannya. Jaga kehormatan suamimu karena engkau adalah laksana pakaian baginya yang mampu menampakkan kebaikannya dan menutupi kekurangannya. Pergunakanlah waktu kedatangannya dari pekerjaannya. Jadilah kau orang yang menyenangkannya dengan senyum dan kasih sayangmu padanya. Jangan pernah kau durhaka pada suami dalam keadaan apapun, khususnya di saat ia sedang dalam kondisi sulit. Ingatlah, wanita dikatakan sebagai golongan yang paling mudah mendapatkan surga sekaligus paling mudah mendapatkan bagian neraka. Mudah baginya memasuki surga karena dia hanya perlu berbuat kebaikan dan taat kepada suaminya dan mudah baginya mendapat balasan neraka apabila ia mendurhakai dan menghina suaminya sendiri. Oleh karenanya, peluang inilah yang harus kau rebut dengan taat dan menghargai suamimu. Keras kepala dari kedua belah pihak hanya bisa diselesaikan dengan pemutusan hubungan suami isteri dan itu sangat tidak baik untukmu. Edifikasikan keluarganya dengan semua yang baik. Hormatilah ibunya dan ketahuilah bahwa ia tetap menjadi ibunya walau ia kini telah menjadi suamimu. Allah telah mewajibkan suamimu untuk tetap taat kepada ibunya dan mencintainya dengan tulus sebagaimana kelak anak keturunanmu pun diwajibkan hal yang sama terhadapmu. Hormati pula ayahnya dan jadikanlah ia laksana ayahmu.
Anak – anakmu adalah bagian dari tubuh dan darahmu. Jadikanlah prioritas utamamu untuk dapat merawat mereka dengan penuh kasih. Jadikanlah pula mereka generasi yang bahagia dan mencintai negerinya dan keluarganya. Engkau adalah ratu di rumahmu dan kau mengendalikan kerajaan kecil di rumahmu. Karenanya siapkanlah kemampuan hingga kau mampu menanggung amanat tersebut dan kaupun kelak mendapatkan keridhoan Ilahi.
Nasihat Untuk Calon Suami
Jadilah kau raja di rumahmu. Cintailah isterimu dengan tulus dan jadikanlah ia sebagai ratumu. Buat ia bangga menjadi permaisuri di kerajaanmu dengan berlandaskan cinta kasih dan ketaatan kepada Allah SWT. Berikanlah dirinya makanan yang cukup dan persembahkan untuknya beragam jenis pakaian. Belikan untuknya minyak wangi karena wanita menyukai minyak wangi. Buatlah dirinya bahagia selama kau hidup dan berilah nafkah yang baik dan halal untuk isteri dan anak – anakmu.
Sesungguhnya seorang istri laksana cermin bagi suaminya dan menjadi bukti akan apa yang diusahakannya dalam mencapai kebahagiaan ataupun kesengsaraan. Engkau adalah laksana pakaian baginya yang mampu menampakkan kecantikan diri dan pribadinya serta menutupi setiap kekurangannya. Jangan terlalu keras dalam rumah tanggamu karena isteri diciptakan dari tulang rusukmu, bagian dari dirimu. Tulang rusuk berada di tempat yang terlindung sehingga isterimu pun ada untuk kau lindungi. Sebagaimana tulang rusuk yang bengkok, berwasiatlah yang baik terhadap isterimu karena jika engkau keras dalam meluruskan maka ia akan patah dan jika engkau biarkan maka selamanya ia akan bengkok.
Engkau adalah imam dan pemimpin dalam keluarga sehingga berilah contoh yang baik. Sikap lemah lembut akan mampu menggetarkan hati wanita disaat ia melakukan suatu kesalahan ataupun saat ia melakukan satu perbuatan buruk. Berikanlah apapun yang diinginkannya selama kau mampu mewujudkannya. Berikan pula padanya kesenangannya hingga ia pun akan menyenangkanmu dan membuatmu bahagia. Bila tidak demikian maka hidupmu akan hancur berantakan. Dekatkan dirimu kepadanya dan panggillah dirinya dengan panggilan yang menyenangkan. Ingatlah, sebaik apapun istri yang Allah kirimkan untukmu, kalau pikiranmu sibuk membayangkan tentang kekurangannya maka engkau akan dapati kekurangan dan keburukan sebanyak yang engkau sanggup untuk mencatatnya. Akan tetapi jika engkau menyibukkan diri melihat kelebihan dan kebaikannya, maka engkau akan dapati kebaikan sebanyak yang ada pada dirinya dan itu akan membahagiakan hidupmu. Oleh karena itu, hormatilah dirinya dan tunjukkanlah rasa kasih sayangmu yang konsisten.
Disamping itu, sayangi dan hormati orang tuanya sebagaimana orang tuamu sendiri. Kemudian jangan sekali – kali membuat ibumu marah kepadamu karena rintihannya akan langsung didengarkan oleh Allah dan kaupun akan mendapatkan hukuman – Nya.
Readmore Baby...
Jumat, Mei 15, 2009
Raih Keberkahan Di Pagi Hari
Saudaraku, Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).
Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendoakan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.” (HR Abu Dawud 2239)
Melalui doa di atas Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan doa beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi. Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.
Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi fihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah... Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari...???
Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:
Pertama, jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.
Kedua, pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan sholat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk sholat malam sebagaimana Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu larut malam mendekati jam duabelas malam. Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan sholat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan sholat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan malas.
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhary 4/310)
Ketiga, pastikan diri tidak kesiangan sholat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi kaum munafik adalah sholat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak. (HR Muslim 2/123)
”Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim 3/387)
Keempat, janganlah tidur sesudah sholat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah. Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari. Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktifitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.
Ya Allah, berkahilah kami di pagi hari selalu. Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari kemalasan dan ketidakberdayaan dalam hidup kami, terutama di waktu pagi hari.
Readmore Baby...
Penting, Siapkan Siswa SMA Menetapkan Kariernya
Guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah menengah atas (SMA) diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan siswa dalam menentukan pilihan fakultas sesuai minat dan bakatnya. Guru BK juga diharapkan dapat membangun dialog dengan siswa, sehingga mampu memecahkan perselisihan antara orang tua dan siswa itu sendiri dalam menentukan jurusan di perguruan tinggi.
Suasana seminar bagi para guru bimbingan konseling SMA. Demikian disampaikan dosen dan konsultan dalam Biro Konsultasi dan Inovasi Psikologi (BPIP) Unpad, Dra. Fanny Zefanja, Psi. dalam Seminar bertajuk “Mempersiapkan Siswa Memasuki Perguruan Tinggi” di Perpustakaan Mochtar Kusumaatmadja, Kampus Unpad, Jalan Dipati Ukur 35 Bandung, Sabtu (28/03). Seminar ini merupakan rangkaian kegiatan “Pameran Pendidikan Unpad 2009” yang dihadiri puluhan guru BK di wilayah Jawa Barat dan Banten.
Ia mengatakan bahwa ada beberapa jurusan di perguruan tinggi yang menuntut siswa menguasai mata pelajaran tertentu. Ini berarti dibutuhkan pengetahuan guru BK untuk memberikan arahan bagi siswa. “Misalnya seorang anak yang sangat tertarik dengan kimia, tapi tidak menyukai kerja di lapangan atau di kawasan pabrik, guru BK bisa mengarahkan siswa untuk memilih jurusan kimia pangan,” ujar Fanny.
Menurut Fanny, fakta menyebut belum banyak guru BK yang memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan pilihan jurusan yang dapat diambil siswa dengan minat dan bakatnya. Kenyataan ini ia peroleh ketika menjadi konsultan bagi anak-anak SMU yang datang padanya meminta nasihat. “Ada anak yang lulus cum laude dari jurusan Akuntansi. Baru tiga bulan bekerja di bank, ia kemudian keluar. Katanya tidak ada tantangan bekerja sebagai akuntan. Lalu saya tanya, hobi apa yang biasa dilakukannya. Ternyata ia suka menggambar pakaian untuk perempuan. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi designer. Ini terjadi karena ia berpikir, jika saat lulus SMU dia memilih jurusan desain, apa kata orang? Apalagi dia laki-laki. Inilah yang harus diubah,” papar Fanny.
Untuk itu, lanjut Fanny, guru BK perlu memperluas diri mereka dengan informasi seputar dunia kerja, sehingga diharapkan dapat membantu siswa menentukan dan menetapkan cita-cita serta bidang kerja yang akan ia geluti kelak. “Perkaya pula sekolah dengan buku-buku tentang dunia kerja atau pengetahuan mengenai profesi tertentu,” ujar Fanny.
Ia mengakui, remaja memang manusia yang rumit, sehingga perlu pendekatan yang khusus. Rumitnya permasalahan itu, kata Fanny, tidak lepas dari tiga macam perkembangan yang paling menonjol pada masa remaja. Perkembangan itu, pertama adalah development of interests yang berarti remaja mulai mengembangkan minat melalui observasi peran-peran dalam pekerjaan yang dilakukan orang tua atau orang dewasa lainnya. Kedua adalah development of capacities yang berarti remaja mulai mengenali kemampuan dalam mengukur kapasitas, bila didasarkan atas minat-minat atau apa yang orang tua mereka katakan. Ketiga development of values yang diharapkan pada usia sekitar 15 hingga 16 tahun, remaja mampu menetapkan tujuan dan nilai-nilai sebagai suatu pertimbangan dalam membuat keputusan karir. “Dialog merupakan cara yang efektif untuk mengetahui permasalahan dan merumuskan pemecahan masalah yang menimpa remaja tersebut,” ujar Fanny.
Ia juga mengungkapkan enam langkah yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pendidikan yang mengarah pada karier siswa di masa mendatang. Dimulai dengan perencanaan karier, eksplorasi dalam karir, membuat keputusan, informasi dunia kerja, pengetahuan mengenai kelompok pekerjaan yang dipilih, hingga peranan dari informasi pekerjaan. (eh)*
Readmore Baby...
Peran Guru BK belum Optimal Tangani Anak Korban Ketakharmonisan Keluarga
KASUS ketidakharmonisan keluarga membawa dampak besar bagi pendidikan siswa di sekolah. Peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah dinilai belum maksimal menangani kasus itu.
Bahkan salah satu pengamat pendidikan Undiksha Singaraja menilai, guru BK di sekolah belum optimal mengembangkan profesi dalam kapasitasnya sebagai konselor di sekolah.
Bagaimana peran guru BK di sekolah khususnya di SMK?
Prof. Dr. Gede Sedanayasa, pengamat pendidikan Undiksha Singaraja menjelaskan, peran guru BK di SMK masih diragukan keberadaannya. “Saya melihat kondisi guru-guru di SMK belum maksimal mengembangkan profesinya sebagai guru BK.
Tak hanya di SMK, di SMA maupun SMP hal itu banyak terjadi,” jelas Kejur BK Fakultas Ilmu Pendidikan Undiksha Singaraja itu.
Guru SMK belum selektif dalam hal memberikan bimbingan yang seharusnya didapatkan siswa. Dalam jenjang pendidikan SMK, peran guru BK tak hanya meliputi bimbingan konseling, tapi orientasinya lebih banyak pada bimbingan karier.
“Untuk SMK, peran guru BK harus berorientasi lebih banyak pada bimbingan karier. Apalagi dengan diadakannya program perluasan SMK, keberadaan guru BK penting, untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai,” jelas Prof. Sedanayasa.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui potensi siswa dalam SMK. Salah satunya dengan mengadakan kelas percobaan maupun tes kemampuan dan bakat siswa. Melalui kelas percobaan dan tes bakat, guru BK melakukan bimbingan karier dan mengarahkan mereka pada jurusan sesuai bakatnya.
“Guru BK punya tugas yang banyak, kalau mereka mau mengembangkan profesinya. Tak hanya memecahkan masalah pribadi siswa, melainkan mencari masalah apa yang dihadapi siswa terutama masalah bakat dan minat. Ini penting bagi kelancaran proses belajar-mengajar di sekolah,” tambah Prof. Sedanayasa.
Setelah ditemukan bakat dan minat, arahkan siswa pda jurusan yang tepat. Selanjutnya, kembangkan melalui praktik kerja di lapangan. “Selama ini, saya melihat belum ada pencarian data-data oleh guru BK mengenai kondisi psikologis siswa, bakat maupun minat dari masing-masing siswa,” katanya.
Dari penelitian yang dilakukannya di SMP dan SMA negeri maupun swasta di Buleleng, ditemukan ada dorongan kuat siswa mengenali jati dirinya. “Apa sebenarnya bakat dan minatnya. Hampir semua siswa ingin tahu hal itu. Itu tugas guru BK sebagai pembimbing di sekolah,” tegasnya.
Umumnya guru BK di sekolah menghadapi masalah pribadi siswa yang erat kaitannya dengan ketakharmonisan keluarganya. Siswa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bolos sekolah tanpa sepengetahuan orangtua. Hal itu karena kurangnya perhatian orangtua terhadap pendidikan anak di sekolah.
“Karena setelah dilakukan home visit, banyak orangtua yang tak mengetahui bagaimana keadaan anaknya di sekolah karena sibuk mencari nafkah. Ada juga karena ketidakharmonisan orangtua di rumah sehingga anak lebih cenderung mencari kesenangan sendiri dengan hal-hal negatif,” jelasnya.
Melihat kondisi itu, Prof. Sedanayasa mengharapkan, peran guru BK dalam menangani hal itu harus dilakukan sedini mungkin dengan beberapa upaya preventif, presentatif maupun kuratif.
Langkah preventif bisa dilakukan dengan mengundang beberapa instansi terkait yang berkaitan dengan prilaku remaja yang menyimpang seperti sosialisasi tentang narkoba, prilaku seksual yang menyimpang, bahkan lebih efektif jika menggunakan media-media pembelajaran sebagai contoh.
Secara presentatif, guru BK mampu mengembangkan bakat siswa sesuai dengan bidangnya. Langkah kuratif dengan jalan membantu siswa memecahkan berbagai masalah.
Faktanya, guru BK cenderung kuratif. Hal ini juga disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai kode etik dan asas kerahasiaan yang berlaku bagi guru BK.
“Tak banyak siswa yang tahu kalau apapun masalah pribadi yang mereka ceritakan dapat dirahasiakan. Yang ada dalam pikiran mereka, datang ke ruang BK adalah tabu. Kode etik dan asas kerahasiaan harus makin sering disosialisasikan pada siswa dalam acara tertentu,” ungkapnya.
Kurang optimalnya peran guru BK dalam mengembangkan profesi juga dinilainya karena latar belakang pendidikan. Masih banyak guru BK di sekolah berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Saat ini di Buleleng sekitar 65 guru BK yang bukan berlatang belakang pendidikan konseling.
Untuk mengatasi hal itu, Jurusan BK Undiksha memberikan tambahan pemahaman mengenai BK. “Sayangnya, tak banyak yang memanfaatkan kesempatan ini. Karena yang datang hanya 25 orang. Komitmen sebagai pendidik saya rasa masih kurang,” pungkasnya. —put
-------------------
Berorientasi Konseling dan Karier
PERAN guru BK,khususnya di SMK lebih banyak berorintasi bimbingan konseling dan karier. Hal itu diungkapkan Kepala SMKN 1 Sukasada, Nyoman Suastika, M.Pd. “Guru BK di sekolah kami lebih banyak perperan dalam hal bimbingan konseling dan karier.
Selain memantau perkembangan psikologis anak, guru BK juga diharapkan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah karier terutama masalah bakat dan kesempatan kerja. Bimbingan karier memudahkan mereka untuk pindah jurusan jika tak sesuai dengan pilihan semula,” jelas Suastika.
Satu jam seminggu, guru BK mempunyai kesempatan memantau perkembangan siswa dengan kunjungan langsung ke kelas-kelas. “Keberadaan BK tak hanya menunggu siswa datang ke ruang BK, tapi bekerja sama dengan beberapa wali, orangtua bahkan teman dekat siswa. Karena umumnya, siswa cenderung curhat dengan teman dekatnya.
Informasi itu selanjutkan kami kembangkan dan mencari solusi,” terang Suastika. Selain itu, pembekalan mengenai moral, etika, disiplin maupun etos kerja juga selalu diterapkan tiap hari sebelum siswa masuk kelas di lapangan. Rata-rata siswa SMK lebih banyak melakukan bimbingan karier untuk menggali potensi keterampilan mereka sesungguhnya.
Bimbingan karier diberikan pada awal tahun ajaran baru bagi semua siswa SMK. Pemantauan nilai pada catur wulan pertama dijadikan patokan untuk mengetahui bakat dan potensi siswa. Penjurusan yang tak sesuai, langsung diarahkan pada jurusan yang semestinya untuk menunjang proses belajar dan prospek kerja siswa.
Hal itu diakui guru BK SMKN 1 Sukasada, Drs. Nyoman Jaya. Menurut Jaya, kondisi siswa SMK berbeda dengan SMP maupun SMA. Bimbingan karier lebih banyak dilakukan karena mereka harus siap terjun ke dunia kerja.
Namun, Jaya juga tak menampik, banyak memberikan konseling mengenai masalah pribadi siswa karena ketidakharmonisan orangtua. “Banyak kasus siswa broken home yang kami tangani.
Rata-rata perbulan bisa mencapai 5 kasus. Ini biasanya berpengaruh pada absensi siswa dan kenakalan remaja. Menangani hal itu, kami melakukan home visit membicarakan masalah ini pada orangtua,” jelas Jaya.
Setelah diadakan evaluasi dan study kasus mengenai masalah yang dihadapi siswa, ketidakharmonisan keluarga menjadi hambatan siswa mengembangkan bakat dan minatnya di sekolah.
Pihak sekolah memutuskan tahun ajaran mendatang akan dilakukan meditasi yoga bagi siswa untuk mengurangi masalah yang selama ini dihadapi siswa baik di rumah maupun di sekolah. “Mudah-mudahan program ini dapat menekan masalah yang terjadi pada siswa selama ini dan lebih memudahkan mereka untuk belajar di sekolah,” tambah Jaya.
Readmore Baby...
psikologis caleg indoensia setelah pemilu
Tanggal 9 April 2009 telah berlalu dan pada hari itu, telah diselenggarakan resepsi besar bangsa Indonesia didalam maupun diluar negeri. Seluruh rakyat, termasuk saya dan anda akan menggunakan hak suara untuk memilih wakil rakyat di legeslatif. Tentunya, suara yang kita berikan sesuai hati nurani masing-masing. Remaja diatas 17 tahun, kaum muda dan tua pun ikut melangkahkan kaki mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kelurahan masing-masing, untuk menyalurkan aspirasi politik kepada calon legeslatif, yang ia wakilkan sebagai wakil rakyat.
Secara makna, yang namanya diwakilkan, mestinya lebih mengerti, dimana posisi atau kedudukannya dibawah orang yang memberi wakil. Dalam kontek ini, siapapun wakil rakyat yang terpilih, hendaknya memahami tentang makna kata wakil atau berwakil atau perwakilan. Dengan demikian wakil rakyat memilih posisi atau kedudukan dibawah rakyat. Makna ini analog dengan wakil presiden dengan Presiden, Wakil Gubernur dengan Gubernur dan wakil Bupati dengan Bupati serta wakil walikota dengan Walikota. Maka posisi yang lebih tinggi masing-masing adalah Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota.
Pemilu kali ini, agak berbeda dengan tahun sebelumnya.Terutama tentang cara mencoblos surat suara. Pemilu tahun ini, metode pencoblosan dengan mencontreng nomor caleg atau nama caleg atau partai politik yang mengusung. Namun demikian, masih ada juga, calon legeslatif yang belum memahami tatacara menandai surat suara yang benar, hal ini terungkap dalam acara sosialisasi pemilu yang diadakan oleh pemerintah kecamatan Bandar Sribawono, Lampung timur melalui Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk dapil VI kecamatan Bandar Sribawono, Melinting dan Labuhan Maringgai ( Radar, 2008).
Terlepas dari metode mencoblosan diatas , Penulis akan mencermati tentang kondisi setelah 9April 2009, apa yang terjadi terhadap calon legeslatif yang kalah dalam perhelatan akbar ?Mengingat, telah banyak korbanan yang dikeluarkan seperti dana yang begitu besar, waktu, tenaga dan pikiran. Apalagi tidak semua dana tersebut, punya sendiri. Bisa saja meminjam alias hutang dengan orang lain. Yang namanya hutang cepat atau lambat mesti harus dibayar. Siapkah mereka secara ikhlas dan legowo calon wakil rakyat untuk menerima kekalahan? Bagaimana sikap mentalnya ? is Oke, kalau semuanya telah siap mental, maka tidak ada masalah - No problem, akan tetapi bagaimana kalau diantara mereka tidak siap? Inilah suatu khawatiran Penulis.
Mungkin disini akan banyak bermunculan penyakit jiwa, stress berat, frustasi dan pusing kepala yang berkepanjngan dan lain lain. Rumah Sakit Jiwa mungkin tempat yang cocok buat mereka. Dr. Aminulah, S.Pj - Direktur Rumah Sakit Jiwa Departemen kesehatan Republik Indoensia,pada Lampung post pernah menyatakan tentang kekhawatiran ini. Ya frustasi dan stress. Oleh karenanya, menurut Penulis siapapun orangnya yang mencalonkan diri sebagai caleg mestinya menyiapkan diri jauh jauh sebelumnya. Artinya ia, harus siap menang dan siap juga untuk kalah dengan segala resikonya.
Situasi kondisi setelah 9 April 2009, yang dialami Calon Legeslatif antara lain banyak orang yang stress berat, pusing kepala yang berkepanjangan, konflik, karena lilitan hutang, rawan kriminal, perasaan berdosa dan banyak ngelamun. Menurut teori stress adalah kondisi mental yang terjadi karena harapan tidak cocok dengan kenyataan. Biasanya stress akan membawa ketegangan jiwa dan juga berkorelasi dengan kondisi fisik. Kondisi fisik yang lelah karena pengaruh ketegangan psikis, akan membawa emosi yang tidak stabil. Stress adalah reaksi individu terhadap berbagai tuntutan atas rangsangan atas diri seseorang. Stress juga menurut Sidharta, 2008 LAN RI sesuatu yang bersifat bahaya, yang mengancam kehidupan mental dan fisik.
Gejala fisik dari stress adalah keadaan jasmani yang menjadi tanda-tanda akan tumbuhnya atau terjengkitnya sesuatu. Tanda-tanda tersebut menurut hasil penelitian sebagai berikut terkena sesak nafas, rasa mual, selera makan berkurang, sering mendapat gangguan pencernaan seperti lambung, kadang disertai mencret, mengalami sulit tidur, sering terjaga, merasa sering lelah, sering gelisah, pegal-pegal di punggung, kesemutan, pusing kepala dan berdebar debar.
Terhadap yang menang, anda pun bisa dibelenggu dengan dosa, karena janji anda pada saat kampanye, secara moral dimintai pertanggungjawaban. Rakyat minta bukti dan bukan janji. Rakyat sudah muak dengan janji dan rakyat sudah bosan dengan omong kosong, kita perlu realita. Karena kalau sudah jadi anggota legeslatif, jangan sampai melupakan rakyat. Doa rakyat yang teraniaya, akan lebih makbul. Karena sebagai anggota legeslatif itu membawa amanah.
Solusi yang dapat diberikan antara lain semuanya kembalikan kepada Allah Ilahi Robbi, karena dia maha dalam segala galanya. Innalalillahi wainna ilahi rojiun. Sesungguhnya kita, semua milik Allah dan semua akan kembali kepadaNYA. Susah dan senang, gembira dan sedih, kalah menang, semua telah diatur olehNYA. Allah juga yang membolak balikan hati manusia kepada kemana yang DIA mau. Karena demi massa, demi matahari senantiasa beredar menurut porosesnya dan bulan berputar mengelilingi. Manusia pun memiliki jiwa sesuai dengan orbitnya Allah.. Fujuroha wat taqwa. lalu apabila jiwa itu keluar dari orbitnya, yaitu melanggar ketentuan Allah, maka tunggulah kehancuranya. Seorang anggota legeslatif juga termasuk pemimpin. Pemimpin itu membawa amanah. Pemimpin umat yang dibutuhkan sekarang ialah yang memiliki kecerdasan Intelektual, emosi dan spiritual. Disinilah diperlukan Spritual Quotient (SQ). SQ adalah kondisi mental yang merupakan aktivitas kerja otak kanan, yang melahirkan sejumlah perasaan kearah religi sesuai dengan suara hati nurani ( inner voice). Hati nurani berisikan Godspot yang mengandung sifat asmaul husna. Seperti kejujuran, kepasrahan, bijaksana, pengasih dan penyayang.
Demikian yang bisa disampaikan, mudah-mudahan tulisan sederhana ini,dapat memberi manfaat dan mengingatkan calon legeslatif untuk menyiapkan mental yaitu siap menang dan siap juga kalah.
Readmore Baby...
Pengantar Bimbingan Pribadi Pada Anak Sekolah
Pengantar Bimbingan Pribadi Pada Anak Sekolah
1. Karakteristik Sekolah Dasar
Sekolah Dasar adalah jenjang pedidikan yang dapat ditempuh selepas dari taman kanak-kanak atau bahkan dapat djalani lansung tanpa adanya proses pendidikan sebelumnya. Dan tujuannya adalah seperti yang telah tercantum pada latar belakang masalah maka dapat disimpulakan bahwa tujuan umum pendidikan di tingkat Sekolah Dasar adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk:
a. Mengembangkan dirinya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota seluruh ummat manusia.
b. Mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ketingkat pendidikan menengah.
2. Peserta Didik
Peserta didik ditingkat sekolah dasar berkisar 6 hingga 12 tahun yang sedang mengalami tahap perkembangan anak-anak dan memasuki masa remaja awal. Setelah menyelesaikan pada tingkat ini maka mereka berada pada tahap perkembangan memasuki masa remaja.
Tahap perkembangan anak-anak usia SD merupakan dimana mereka mempersiapkan drinya untuk kelansungan hidupnya kelak dalam menghadapi tugas perkembangannya.
3. Pengertian Bimbingan dan Konseling.
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terprogram dan berkelanjutan. Hal ini mengandung makna bahwa kegiatan bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan tanpa rencana dan seadanya, baik menyangkut waktu pelayanan, isi kegiatan, sarana dan prasarana, maupun personil yang terlihat, akan tetapi merupakan kegiatan yang direncanakan secara khusus dengan pertimbangan berbagai kebutuhan dan tuntutan yang ada disekolah dimana kegiatan konseling itu berlangsung.
Menurut Arthur J. Jones yang dikutip Dewa Ketut Sukardi menyebutkan: “Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam menetapkan pilihan dan penyesuaian diri, serta dalam memecahkan masalah. Bimbingan bertujuan membantu penerimaan secara bebas dan mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri”. (1998:8)
Sedangkan pengertian konseling adalah suatu proses untuk mengadakan perubahan pada diri anak. Perubahan itu sendiri ada dasarnya, yaitu menimbulkan suatu yang baru sebelumnya belum ada atau belum berkembang. Jadi, perubahan adalah keadaan yang menyatakan adanya sesuatu yang lain dari keadaan sebelumnya. Mengubah adalah berusaha agar sesuatu menjadi lain dari keadaan semula. Perubahan pada diri klien itu ternyata ada sesuatu yang lain disbanding keadaan terdahulu.
{mospagebreak}
Adapun tujuan pokok konseling adalah membantu murid memperoleh identitas dirinya sebagai landasan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam keseluruhan kehidupan pribadinya. Dengan demikian setelah pelaksanaan penyuluhan berakhir, diharapkan tersuluh (klien/conselee) memperoleh konsep yang memadai mengenai :
ü Dirinya sendiri
ü Orang lain disekitarnya
ü Pendapat orang lain mengensi dirinya
ü Tujuan-tujuan dan harapan-harapan yang mudah dicapai
ü Kepercayaan terhadap dirinya
Sedangkan hubungan Bimbingan dan Konseling adalah merupakan kegiatan yang integral, keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perkataan guidance selalu dirangkaikan dengan konseling merupakan salah satu jenis teknik pelayanan bimbingan diantara pelayanan-pelayanan lainnya, dan sering dikatakan sebagai inti dari seluruh pelayanan dalam bimbingan.
Kegiatan bimbingan secara keseluruhan harus mencakup :
ü Bimbingan pribadi
ü Bimbingan sosial
ü Bimbingan belajar
ü Bimbingan karier
Dalam penelitian ini bimbingan yang akan dispesifikkan adalah jenis layanan lain yang berfungsi sebagai pendukung bimbingan dan konseling yang bersifat bimbingan pribadi dari guru kelas/wali kelas terhadap peserta didik. Layanan ini mencakup Layanan orientasi dan informasi.
4. Bagian Bimbingan dan Konseling
a. Fungsi bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan pendidikan hampir memiliki definisi yang sama dan hanya dapat dibedakan secara teoritis saja karena pelakuan yang diberikan oleh guru disekolah meliputi beberapa bantuan yaitu:
ü Menolong anak dalam kesulitan belajar
ü Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak
ü Memberi nasehat kepada anak yang akan berhenti dari sekolah
ü Memberi petunjuk kepada anak anak yang akan melanjutkan pendidikannya, dan sebagainya.
Semua hal diatas dilakukan oleh guru tersebut dapat juga disebut bimbingan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa bimbingan adalah segala usaha yang menyangkut kependidikan yang dilakukan oleh guru.
Namun demikian, meskipun bimbingan menyangkut aspek dari kegiatan, hendaknya perlu diperhatikan bahwa pendidikan dan bimbingan berbeda dalam tujuan dan prosesnya. Karena bimbingan bimbingan banyak berhubungan dengan factor-faktor diluar individu, yang berguna bagi individu tersebut usaha pengembangan diri.
b. Jenis-jenis Bimbingan
Terdapat berbagai macam jenis bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa disekolah khususnya siswa sekolah dasar. Dan layanan ini diberikan secara kontak lansung dengan peserta didik diantaranya adalah:
ü Layanan orientasai : Bimbingan tengan lingkungan baru sekolah yang mereka masuki
ü Layanana Imformasi : Bimbingan pemberian imformasi tentang pendidikan dan sekolah lanjutan
ü Layanan penempatan dan penyaluran: Pengaturan tentang kegiatan belajar seperti kelompok dan jurusan.
ü Layanan Pembelajaran : Membimbing siswa dalam menentukan kebiasaan belajar, materi pelajaran dan kesulitan dalam belajar
ü Layanan Konseling perorangan : Pemecahan permasalahan pribadi siswa yang dilakukan secara tatap muka
ü Layanan bimbingan kelompok : Bimbingan yang diberilkan tentang pokok bahasan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang diberikan secara kelompok
ü Layanan konseling kelompok : Pembahasan masalah-masalah pribadi yang dibahas secara berkelompok.
{mospagebreak}
c. Faktor Pendukung Bimbingan dan Konseling
Selain aktivitas diatas, dalam bimbingan dan konseling dapat dilakukan kegiatan lain yang kita anggap sebagai kegiatan pendukung. Adapaun kegiatan pendukung tersebut adalah:
ü Applikasi instrumentasi bimbingan dan konseling : Menyangkut pengumpulan data tentang peserta didik baik melalui tes atau non-tes.
ü Penyelenggaraan himpunan data : Kegiatan pengumpulan data atau keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.
ü Konfrensi kasus: Membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik yang dilakukan dalam suatu forum yang terbatas dan tertutup
ü Kunjungan rumah : Kunjungan yang dilakukan dalam rangka penuntasan kasus yang dilakukan guru dan bekerja sama dengan orang tua atau anggota keluarga siswa.
ü Alih tangan kasus: Pemindahan penangan kasus pada pihak yang lebih ahli dalm penangan permasahan siswa.
Faktor pendukung ini tidak boleh menggangu atau mengurang intensitas dan frequensi pelaksanaan jenis bimbingan yang lebih utama.
1. Prisip-prinsip Bimbingan dan Konseling disekolah.
a. Prisip yang bekenaan dengan sasaran layanan:
ü Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin,suku,agama,dan satus social ekonomi.
ü Bimbingan dan konseling berhubungan dengan pribadi dan tingkah laku yang unik dan dinamik
ü Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu
ü Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang merupakan orientasi pokok pelayanannya
b. prinsip berkenaan dengan permasalahan individu.
ü Bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah, serta dalam kaitannya dalam kontak social dan pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
ü Kesenjangan social, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada diri individu yang kesemuanya menjadi perhatian utma pelayan bimbingan dan konseling.
c. Prisip-prinsip berkenaan Dengan program layanan
ü Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahannya.
ü Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu itu sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak lain.
ü Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
ü Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua sangat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
ü Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan azas-azas bimbingan dan konseling di sekolah.
Pemenuhan terhadap azas-azas bimbingan dan konseling akan memperlancar pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, Adapun azas-azas tersebut meliputi:
· Azas kerahasiaan, pembimbing harus memelihara kerahasiaan data dan keterangan tentang siswa yang menjadi sasaran layananan.
· Azas kesukarelaan, adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik dalam menerima layanan.
· Azas keterbukaan, Peserta didik diharapkan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalm memberikan keterangan tentang dirinya maupun dalam menerima berbagai macam informasi dan materi yang berguna bagi pengembangan dirinya.
· Azas kegiatan, adanya partisipasi peserta didik secara aktif dalam penyelenggaraan layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan baginya.
· Azas kemandirian, peserta didik diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan cirri-ciri mengenang dan dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mewujudkan dirinya sendiri
· Azas kekinian, menghubungkan permasalahan yang telah berlalu dan masa depan dengan keadaan yang terjadi sekarang.
· Azas kedinamisan, layanan yang diberikan terhadap peserta didik hendaknya bergerak maju, tidak monoton dan terus berkenbang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
· Azas keterpaduan, adanya kordinasi dari guru maupun pihak lain yang saling menunjang, harmonis dan terpadu.
· Azas kenormatifan, segala bimbingan dan layanan yang diberikan tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang ada, seperti norma agama, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku. Akan teapi peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.
{mospagebreak}
· Azas keahlian, layanan yang dilakukan harus dilakukan secara frofesionalisme sehingga dibutuhkan guru yang frofesional.
· Azas alih tangan, jika pemberi bimbingan sudah tiadak mampu menangani (klien) nya maka harus dialih tangankan pada seseorang yang lebih ahli.
· Azas tut wuri handayani, bimbingan dan layanan yang diberikan harus mampu mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan ransangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk lebih maju.
5. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada siswa SD yang baru, dan jika perlu melalalui orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan memungkinkan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya. Hasil yang diharapkan dalam layanan orientasi adalah dipermudahnya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan social, kegiatan belajardan kegiatan sekolah lain yang mendukung keberhasilan siswa. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan orientasi ialah fungsi pemahaman dan pencegahan. Pelayanan ini dilakukan diawal masuk sekolah dan mencakup berbagai macam layanan yaitu:
ü Orientasi umum sekolah yang baru dimasuki
ü Orientasi kelas baru dan semester baru
ü Orientasi kelas terakhir, UAS dan UAN.
2. Layanan Informasi
Menurut Prayetno, 1997: 76) “Layanan informasi adalah layanan yang bertujuan membekali siswa dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan anggota keluarga dan masyarakat”. Pemahaman yang diperoleh layanan informasi digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita menyelenggarakan hidup sehari-hari dan mengambil keputusan.
Materi umum layanan informasi meliputi:
ü Informasi pengembangan pribadi
ü Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar
ü Informasi sekolah lanjutan
ü Informasi jabatan (awal/sederhana)
ü Informasi lingkungan (kehidupan keluarga, sosial kemasyrakatan, keberagaman, sosial budaya, dan lingkungan lainnya.
Pelayanan bimbingan orientasi dan imformasi dapat disampaikan dengan cara yang sama yaitu ceramah, tanya jawab dan diskusi dan dapat dilengkapi dengan peragaan, selebaran dan peninjauan ketempat tempat yang dimaksud seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.
Readmore Baby...
PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR
PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar).
Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yang berkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.
Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa proses pendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukan mentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alat adalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisi pendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi serta bimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58).
Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.
Di Sekolah Dasar, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikan oleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baik tugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes) dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpa terkecuali.
Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
Guru Sekolah Dasar harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingan konseling tersebut agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga tidak menggangu jalannya proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaran yang cukup berarti.
Realitas di lapangan, khususnya di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab guru kelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasi belajar siswa.
Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua mata pelajaran, guru SD juga dibebani seperangkat administrasi yang harus dikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layanan bimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namun agaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konseling juga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layanan bimbingan konseling di SD "asal jalan".
Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai dengan baik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya, hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untuk itu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelola kegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah dasar.
Berdasar latar belakang tersebut di atas, penulis tergerak untuk melakukan telaah mengenai peran guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana peran guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar?
B. PEMBAHASAN
1. Hakikat Bimbingan dan Konsling di SD
M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11).
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
Dari pengertin tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:
(1) adanya bantuan dari seorang ahli,
(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,
(3) bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.
2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD
Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatarbelangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan.
Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.
Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
(1) masalah perkembangan individu,
(2) masalah perbedaan individual,
(3) masalah kebutuhan individu,
(4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan
(5) masalah belajar
3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD
Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:
a. Fungsi penyaluran ( distributif )
Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah sambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi ini meliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolah antara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, dan lain-lain.
b. Fungsi penyesuaian ( adjustif )
Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknik bimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi ini juga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.
c. Fungsi adaptasi ( adaptif )
Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu staf sekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini pembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya. Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)
4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.
b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.
j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).
5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Berdasakan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwakerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat) kegiatan utama, yakni:
a. Layanan dasar bimbingan
Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan ketrampilan-ketrampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan siswa SD.
b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:
(1) bidang pendidikan;
(2) bidang belajar;
(3)bidang sosial;
(4) bidang pribadi;
(5) bidang karir;
(6) bidang tata tertib SD;
(7) bidang narkotika dan perjudian;
(8) bidang perilaku sosial, dan
(9)bidang kehidupan lainnya.
c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang membantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir,dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahami perkembangan sendiri.
d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingan secara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangaan profesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990)
Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:
(1) layanan pengumpulan data,
(2) layanan informasi,
(3) layanan penempatan,
(4) layanan konseling,
(5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan
(6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).
6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD
Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:
a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.
C. PENUTUP
1. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar sangat penting sekali. Sejalan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru kelas mempunyai peran yang sentral dalam kegiatan BK. Peran tersebut mencakupi peran sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Peran tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.
2. Saran
Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SD bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memiliki Guru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di samping mengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BK sehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BK di Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2004. Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
M. Surya. 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT.
Mungin Eddy Wibowo. 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.
Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum 2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.
Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar. Jakarta: Dedpikbud.
Prayitno Erman Amti. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyo, dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: FIP IKIP Semarang.
Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Jaya Utama
Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Alfabeta, Ground
Readmore Baby...
