KASUS ketidakharmonisan keluarga membawa dampak besar bagi pendidikan siswa di sekolah. Peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah dinilai belum maksimal menangani kasus itu.
Bahkan salah satu pengamat pendidikan Undiksha Singaraja menilai, guru BK di sekolah belum optimal mengembangkan profesi dalam kapasitasnya sebagai konselor di sekolah.
Bagaimana peran guru BK di sekolah khususnya di SMK?
Prof. Dr. Gede Sedanayasa, pengamat pendidikan Undiksha Singaraja menjelaskan, peran guru BK di SMK masih diragukan keberadaannya. “Saya melihat kondisi guru-guru di SMK belum maksimal mengembangkan profesinya sebagai guru BK.
Tak hanya di SMK, di SMA maupun SMP hal itu banyak terjadi,” jelas Kejur BK Fakultas Ilmu Pendidikan Undiksha Singaraja itu.
Guru SMK belum selektif dalam hal memberikan bimbingan yang seharusnya didapatkan siswa. Dalam jenjang pendidikan SMK, peran guru BK tak hanya meliputi bimbingan konseling, tapi orientasinya lebih banyak pada bimbingan karier.
“Untuk SMK, peran guru BK harus berorientasi lebih banyak pada bimbingan karier. Apalagi dengan diadakannya program perluasan SMK, keberadaan guru BK penting, untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai,” jelas Prof. Sedanayasa.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui potensi siswa dalam SMK. Salah satunya dengan mengadakan kelas percobaan maupun tes kemampuan dan bakat siswa. Melalui kelas percobaan dan tes bakat, guru BK melakukan bimbingan karier dan mengarahkan mereka pada jurusan sesuai bakatnya.
“Guru BK punya tugas yang banyak, kalau mereka mau mengembangkan profesinya. Tak hanya memecahkan masalah pribadi siswa, melainkan mencari masalah apa yang dihadapi siswa terutama masalah bakat dan minat. Ini penting bagi kelancaran proses belajar-mengajar di sekolah,” tambah Prof. Sedanayasa.
Setelah ditemukan bakat dan minat, arahkan siswa pda jurusan yang tepat. Selanjutnya, kembangkan melalui praktik kerja di lapangan. “Selama ini, saya melihat belum ada pencarian data-data oleh guru BK mengenai kondisi psikologis siswa, bakat maupun minat dari masing-masing siswa,” katanya.
Dari penelitian yang dilakukannya di SMP dan SMA negeri maupun swasta di Buleleng, ditemukan ada dorongan kuat siswa mengenali jati dirinya. “Apa sebenarnya bakat dan minatnya. Hampir semua siswa ingin tahu hal itu. Itu tugas guru BK sebagai pembimbing di sekolah,” tegasnya.
Umumnya guru BK di sekolah menghadapi masalah pribadi siswa yang erat kaitannya dengan ketakharmonisan keluarganya. Siswa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bolos sekolah tanpa sepengetahuan orangtua. Hal itu karena kurangnya perhatian orangtua terhadap pendidikan anak di sekolah.
“Karena setelah dilakukan home visit, banyak orangtua yang tak mengetahui bagaimana keadaan anaknya di sekolah karena sibuk mencari nafkah. Ada juga karena ketidakharmonisan orangtua di rumah sehingga anak lebih cenderung mencari kesenangan sendiri dengan hal-hal negatif,” jelasnya.
Melihat kondisi itu, Prof. Sedanayasa mengharapkan, peran guru BK dalam menangani hal itu harus dilakukan sedini mungkin dengan beberapa upaya preventif, presentatif maupun kuratif.
Langkah preventif bisa dilakukan dengan mengundang beberapa instansi terkait yang berkaitan dengan prilaku remaja yang menyimpang seperti sosialisasi tentang narkoba, prilaku seksual yang menyimpang, bahkan lebih efektif jika menggunakan media-media pembelajaran sebagai contoh.
Secara presentatif, guru BK mampu mengembangkan bakat siswa sesuai dengan bidangnya. Langkah kuratif dengan jalan membantu siswa memecahkan berbagai masalah.
Faktanya, guru BK cenderung kuratif. Hal ini juga disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai kode etik dan asas kerahasiaan yang berlaku bagi guru BK.
“Tak banyak siswa yang tahu kalau apapun masalah pribadi yang mereka ceritakan dapat dirahasiakan. Yang ada dalam pikiran mereka, datang ke ruang BK adalah tabu. Kode etik dan asas kerahasiaan harus makin sering disosialisasikan pada siswa dalam acara tertentu,” ungkapnya.
Kurang optimalnya peran guru BK dalam mengembangkan profesi juga dinilainya karena latar belakang pendidikan. Masih banyak guru BK di sekolah berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Saat ini di Buleleng sekitar 65 guru BK yang bukan berlatang belakang pendidikan konseling.
Untuk mengatasi hal itu, Jurusan BK Undiksha memberikan tambahan pemahaman mengenai BK. “Sayangnya, tak banyak yang memanfaatkan kesempatan ini. Karena yang datang hanya 25 orang. Komitmen sebagai pendidik saya rasa masih kurang,” pungkasnya. —put
-------------------
Berorientasi Konseling dan Karier
PERAN guru BK,khususnya di SMK lebih banyak berorintasi bimbingan konseling dan karier. Hal itu diungkapkan Kepala SMKN 1 Sukasada, Nyoman Suastika, M.Pd. “Guru BK di sekolah kami lebih banyak perperan dalam hal bimbingan konseling dan karier.
Selain memantau perkembangan psikologis anak, guru BK juga diharapkan dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah karier terutama masalah bakat dan kesempatan kerja. Bimbingan karier memudahkan mereka untuk pindah jurusan jika tak sesuai dengan pilihan semula,” jelas Suastika.
Satu jam seminggu, guru BK mempunyai kesempatan memantau perkembangan siswa dengan kunjungan langsung ke kelas-kelas. “Keberadaan BK tak hanya menunggu siswa datang ke ruang BK, tapi bekerja sama dengan beberapa wali, orangtua bahkan teman dekat siswa. Karena umumnya, siswa cenderung curhat dengan teman dekatnya.
Informasi itu selanjutkan kami kembangkan dan mencari solusi,” terang Suastika. Selain itu, pembekalan mengenai moral, etika, disiplin maupun etos kerja juga selalu diterapkan tiap hari sebelum siswa masuk kelas di lapangan. Rata-rata siswa SMK lebih banyak melakukan bimbingan karier untuk menggali potensi keterampilan mereka sesungguhnya.
Bimbingan karier diberikan pada awal tahun ajaran baru bagi semua siswa SMK. Pemantauan nilai pada catur wulan pertama dijadikan patokan untuk mengetahui bakat dan potensi siswa. Penjurusan yang tak sesuai, langsung diarahkan pada jurusan yang semestinya untuk menunjang proses belajar dan prospek kerja siswa.
Hal itu diakui guru BK SMKN 1 Sukasada, Drs. Nyoman Jaya. Menurut Jaya, kondisi siswa SMK berbeda dengan SMP maupun SMA. Bimbingan karier lebih banyak dilakukan karena mereka harus siap terjun ke dunia kerja.
Namun, Jaya juga tak menampik, banyak memberikan konseling mengenai masalah pribadi siswa karena ketidakharmonisan orangtua. “Banyak kasus siswa broken home yang kami tangani.
Rata-rata perbulan bisa mencapai 5 kasus. Ini biasanya berpengaruh pada absensi siswa dan kenakalan remaja. Menangani hal itu, kami melakukan home visit membicarakan masalah ini pada orangtua,” jelas Jaya.
Setelah diadakan evaluasi dan study kasus mengenai masalah yang dihadapi siswa, ketidakharmonisan keluarga menjadi hambatan siswa mengembangkan bakat dan minatnya di sekolah.
Pihak sekolah memutuskan tahun ajaran mendatang akan dilakukan meditasi yoga bagi siswa untuk mengurangi masalah yang selama ini dihadapi siswa baik di rumah maupun di sekolah. “Mudah-mudahan program ini dapat menekan masalah yang terjadi pada siswa selama ini dan lebih memudahkan mereka untuk belajar di sekolah,” tambah Jaya.
Readmore Baby...
Jumat, Mei 15, 2009
Peran Guru BK belum Optimal Tangani Anak Korban Ketakharmonisan Keluarga
psikologis caleg indoensia setelah pemilu
Tanggal 9 April 2009 telah berlalu dan pada hari itu, telah diselenggarakan resepsi besar bangsa Indonesia didalam maupun diluar negeri. Seluruh rakyat, termasuk saya dan anda akan menggunakan hak suara untuk memilih wakil rakyat di legeslatif. Tentunya, suara yang kita berikan sesuai hati nurani masing-masing. Remaja diatas 17 tahun, kaum muda dan tua pun ikut melangkahkan kaki mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kelurahan masing-masing, untuk menyalurkan aspirasi politik kepada calon legeslatif, yang ia wakilkan sebagai wakil rakyat.
Secara makna, yang namanya diwakilkan, mestinya lebih mengerti, dimana posisi atau kedudukannya dibawah orang yang memberi wakil. Dalam kontek ini, siapapun wakil rakyat yang terpilih, hendaknya memahami tentang makna kata wakil atau berwakil atau perwakilan. Dengan demikian wakil rakyat memilih posisi atau kedudukan dibawah rakyat. Makna ini analog dengan wakil presiden dengan Presiden, Wakil Gubernur dengan Gubernur dan wakil Bupati dengan Bupati serta wakil walikota dengan Walikota. Maka posisi yang lebih tinggi masing-masing adalah Presiden, Gubernur, Bupati dan Walikota.
Pemilu kali ini, agak berbeda dengan tahun sebelumnya.Terutama tentang cara mencoblos surat suara. Pemilu tahun ini, metode pencoblosan dengan mencontreng nomor caleg atau nama caleg atau partai politik yang mengusung. Namun demikian, masih ada juga, calon legeslatif yang belum memahami tatacara menandai surat suara yang benar, hal ini terungkap dalam acara sosialisasi pemilu yang diadakan oleh pemerintah kecamatan Bandar Sribawono, Lampung timur melalui Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) untuk dapil VI kecamatan Bandar Sribawono, Melinting dan Labuhan Maringgai ( Radar, 2008).
Terlepas dari metode mencoblosan diatas , Penulis akan mencermati tentang kondisi setelah 9April 2009, apa yang terjadi terhadap calon legeslatif yang kalah dalam perhelatan akbar ?Mengingat, telah banyak korbanan yang dikeluarkan seperti dana yang begitu besar, waktu, tenaga dan pikiran. Apalagi tidak semua dana tersebut, punya sendiri. Bisa saja meminjam alias hutang dengan orang lain. Yang namanya hutang cepat atau lambat mesti harus dibayar. Siapkah mereka secara ikhlas dan legowo calon wakil rakyat untuk menerima kekalahan? Bagaimana sikap mentalnya ? is Oke, kalau semuanya telah siap mental, maka tidak ada masalah - No problem, akan tetapi bagaimana kalau diantara mereka tidak siap? Inilah suatu khawatiran Penulis.
Mungkin disini akan banyak bermunculan penyakit jiwa, stress berat, frustasi dan pusing kepala yang berkepanjngan dan lain lain. Rumah Sakit Jiwa mungkin tempat yang cocok buat mereka. Dr. Aminulah, S.Pj - Direktur Rumah Sakit Jiwa Departemen kesehatan Republik Indoensia,pada Lampung post pernah menyatakan tentang kekhawatiran ini. Ya frustasi dan stress. Oleh karenanya, menurut Penulis siapapun orangnya yang mencalonkan diri sebagai caleg mestinya menyiapkan diri jauh jauh sebelumnya. Artinya ia, harus siap menang dan siap juga untuk kalah dengan segala resikonya.
Situasi kondisi setelah 9 April 2009, yang dialami Calon Legeslatif antara lain banyak orang yang stress berat, pusing kepala yang berkepanjangan, konflik, karena lilitan hutang, rawan kriminal, perasaan berdosa dan banyak ngelamun. Menurut teori stress adalah kondisi mental yang terjadi karena harapan tidak cocok dengan kenyataan. Biasanya stress akan membawa ketegangan jiwa dan juga berkorelasi dengan kondisi fisik. Kondisi fisik yang lelah karena pengaruh ketegangan psikis, akan membawa emosi yang tidak stabil. Stress adalah reaksi individu terhadap berbagai tuntutan atas rangsangan atas diri seseorang. Stress juga menurut Sidharta, 2008 LAN RI sesuatu yang bersifat bahaya, yang mengancam kehidupan mental dan fisik.
Gejala fisik dari stress adalah keadaan jasmani yang menjadi tanda-tanda akan tumbuhnya atau terjengkitnya sesuatu. Tanda-tanda tersebut menurut hasil penelitian sebagai berikut terkena sesak nafas, rasa mual, selera makan berkurang, sering mendapat gangguan pencernaan seperti lambung, kadang disertai mencret, mengalami sulit tidur, sering terjaga, merasa sering lelah, sering gelisah, pegal-pegal di punggung, kesemutan, pusing kepala dan berdebar debar.
Terhadap yang menang, anda pun bisa dibelenggu dengan dosa, karena janji anda pada saat kampanye, secara moral dimintai pertanggungjawaban. Rakyat minta bukti dan bukan janji. Rakyat sudah muak dengan janji dan rakyat sudah bosan dengan omong kosong, kita perlu realita. Karena kalau sudah jadi anggota legeslatif, jangan sampai melupakan rakyat. Doa rakyat yang teraniaya, akan lebih makbul. Karena sebagai anggota legeslatif itu membawa amanah.
Solusi yang dapat diberikan antara lain semuanya kembalikan kepada Allah Ilahi Robbi, karena dia maha dalam segala galanya. Innalalillahi wainna ilahi rojiun. Sesungguhnya kita, semua milik Allah dan semua akan kembali kepadaNYA. Susah dan senang, gembira dan sedih, kalah menang, semua telah diatur olehNYA. Allah juga yang membolak balikan hati manusia kepada kemana yang DIA mau. Karena demi massa, demi matahari senantiasa beredar menurut porosesnya dan bulan berputar mengelilingi. Manusia pun memiliki jiwa sesuai dengan orbitnya Allah.. Fujuroha wat taqwa. lalu apabila jiwa itu keluar dari orbitnya, yaitu melanggar ketentuan Allah, maka tunggulah kehancuranya. Seorang anggota legeslatif juga termasuk pemimpin. Pemimpin itu membawa amanah. Pemimpin umat yang dibutuhkan sekarang ialah yang memiliki kecerdasan Intelektual, emosi dan spiritual. Disinilah diperlukan Spritual Quotient (SQ). SQ adalah kondisi mental yang merupakan aktivitas kerja otak kanan, yang melahirkan sejumlah perasaan kearah religi sesuai dengan suara hati nurani ( inner voice). Hati nurani berisikan Godspot yang mengandung sifat asmaul husna. Seperti kejujuran, kepasrahan, bijaksana, pengasih dan penyayang.
Demikian yang bisa disampaikan, mudah-mudahan tulisan sederhana ini,dapat memberi manfaat dan mengingatkan calon legeslatif untuk menyiapkan mental yaitu siap menang dan siap juga kalah.
Readmore Baby...
Pengantar Bimbingan Pribadi Pada Anak Sekolah
Pengantar Bimbingan Pribadi Pada Anak Sekolah
1. Karakteristik Sekolah Dasar
Sekolah Dasar adalah jenjang pedidikan yang dapat ditempuh selepas dari taman kanak-kanak atau bahkan dapat djalani lansung tanpa adanya proses pendidikan sebelumnya. Dan tujuannya adalah seperti yang telah tercantum pada latar belakang masalah maka dapat disimpulakan bahwa tujuan umum pendidikan di tingkat Sekolah Dasar adalah memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk:
a. Mengembangkan dirinya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota seluruh ummat manusia.
b. Mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan ketingkat pendidikan menengah.
2. Peserta Didik
Peserta didik ditingkat sekolah dasar berkisar 6 hingga 12 tahun yang sedang mengalami tahap perkembangan anak-anak dan memasuki masa remaja awal. Setelah menyelesaikan pada tingkat ini maka mereka berada pada tahap perkembangan memasuki masa remaja.
Tahap perkembangan anak-anak usia SD merupakan dimana mereka mempersiapkan drinya untuk kelansungan hidupnya kelak dalam menghadapi tugas perkembangannya.
3. Pengertian Bimbingan dan Konseling.
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang terprogram dan berkelanjutan. Hal ini mengandung makna bahwa kegiatan bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan tanpa rencana dan seadanya, baik menyangkut waktu pelayanan, isi kegiatan, sarana dan prasarana, maupun personil yang terlihat, akan tetapi merupakan kegiatan yang direncanakan secara khusus dengan pertimbangan berbagai kebutuhan dan tuntutan yang ada disekolah dimana kegiatan konseling itu berlangsung.
Menurut Arthur J. Jones yang dikutip Dewa Ketut Sukardi menyebutkan: “Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam menetapkan pilihan dan penyesuaian diri, serta dalam memecahkan masalah. Bimbingan bertujuan membantu penerimaan secara bebas dan mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri”. (1998:8)
Sedangkan pengertian konseling adalah suatu proses untuk mengadakan perubahan pada diri anak. Perubahan itu sendiri ada dasarnya, yaitu menimbulkan suatu yang baru sebelumnya belum ada atau belum berkembang. Jadi, perubahan adalah keadaan yang menyatakan adanya sesuatu yang lain dari keadaan sebelumnya. Mengubah adalah berusaha agar sesuatu menjadi lain dari keadaan semula. Perubahan pada diri klien itu ternyata ada sesuatu yang lain disbanding keadaan terdahulu.
{mospagebreak}
Adapun tujuan pokok konseling adalah membantu murid memperoleh identitas dirinya sebagai landasan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam keseluruhan kehidupan pribadinya. Dengan demikian setelah pelaksanaan penyuluhan berakhir, diharapkan tersuluh (klien/conselee) memperoleh konsep yang memadai mengenai :
ü Dirinya sendiri
ü Orang lain disekitarnya
ü Pendapat orang lain mengensi dirinya
ü Tujuan-tujuan dan harapan-harapan yang mudah dicapai
ü Kepercayaan terhadap dirinya
Sedangkan hubungan Bimbingan dan Konseling adalah merupakan kegiatan yang integral, keduanya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, perkataan guidance selalu dirangkaikan dengan konseling merupakan salah satu jenis teknik pelayanan bimbingan diantara pelayanan-pelayanan lainnya, dan sering dikatakan sebagai inti dari seluruh pelayanan dalam bimbingan.
Kegiatan bimbingan secara keseluruhan harus mencakup :
ü Bimbingan pribadi
ü Bimbingan sosial
ü Bimbingan belajar
ü Bimbingan karier
Dalam penelitian ini bimbingan yang akan dispesifikkan adalah jenis layanan lain yang berfungsi sebagai pendukung bimbingan dan konseling yang bersifat bimbingan pribadi dari guru kelas/wali kelas terhadap peserta didik. Layanan ini mencakup Layanan orientasi dan informasi.
4. Bagian Bimbingan dan Konseling
a. Fungsi bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan pendidikan hampir memiliki definisi yang sama dan hanya dapat dibedakan secara teoritis saja karena pelakuan yang diberikan oleh guru disekolah meliputi beberapa bantuan yaitu:
ü Menolong anak dalam kesulitan belajar
ü Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak
ü Memberi nasehat kepada anak yang akan berhenti dari sekolah
ü Memberi petunjuk kepada anak anak yang akan melanjutkan pendidikannya, dan sebagainya.
Semua hal diatas dilakukan oleh guru tersebut dapat juga disebut bimbingan, dengan demikian dapat dikatakan bahwa bimbingan adalah segala usaha yang menyangkut kependidikan yang dilakukan oleh guru.
Namun demikian, meskipun bimbingan menyangkut aspek dari kegiatan, hendaknya perlu diperhatikan bahwa pendidikan dan bimbingan berbeda dalam tujuan dan prosesnya. Karena bimbingan bimbingan banyak berhubungan dengan factor-faktor diluar individu, yang berguna bagi individu tersebut usaha pengembangan diri.
b. Jenis-jenis Bimbingan
Terdapat berbagai macam jenis bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa disekolah khususnya siswa sekolah dasar. Dan layanan ini diberikan secara kontak lansung dengan peserta didik diantaranya adalah:
ü Layanan orientasai : Bimbingan tengan lingkungan baru sekolah yang mereka masuki
ü Layanana Imformasi : Bimbingan pemberian imformasi tentang pendidikan dan sekolah lanjutan
ü Layanan penempatan dan penyaluran: Pengaturan tentang kegiatan belajar seperti kelompok dan jurusan.
ü Layanan Pembelajaran : Membimbing siswa dalam menentukan kebiasaan belajar, materi pelajaran dan kesulitan dalam belajar
ü Layanan Konseling perorangan : Pemecahan permasalahan pribadi siswa yang dilakukan secara tatap muka
ü Layanan bimbingan kelompok : Bimbingan yang diberilkan tentang pokok bahasan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang diberikan secara kelompok
ü Layanan konseling kelompok : Pembahasan masalah-masalah pribadi yang dibahas secara berkelompok.
{mospagebreak}
c. Faktor Pendukung Bimbingan dan Konseling
Selain aktivitas diatas, dalam bimbingan dan konseling dapat dilakukan kegiatan lain yang kita anggap sebagai kegiatan pendukung. Adapaun kegiatan pendukung tersebut adalah:
ü Applikasi instrumentasi bimbingan dan konseling : Menyangkut pengumpulan data tentang peserta didik baik melalui tes atau non-tes.
ü Penyelenggaraan himpunan data : Kegiatan pengumpulan data atau keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.
ü Konfrensi kasus: Membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik yang dilakukan dalam suatu forum yang terbatas dan tertutup
ü Kunjungan rumah : Kunjungan yang dilakukan dalam rangka penuntasan kasus yang dilakukan guru dan bekerja sama dengan orang tua atau anggota keluarga siswa.
ü Alih tangan kasus: Pemindahan penangan kasus pada pihak yang lebih ahli dalm penangan permasahan siswa.
Faktor pendukung ini tidak boleh menggangu atau mengurang intensitas dan frequensi pelaksanaan jenis bimbingan yang lebih utama.
1. Prisip-prinsip Bimbingan dan Konseling disekolah.
a. Prisip yang bekenaan dengan sasaran layanan:
ü Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin,suku,agama,dan satus social ekonomi.
ü Bimbingan dan konseling berhubungan dengan pribadi dan tingkah laku yang unik dan dinamik
ü Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu
ü Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yang merupakan orientasi pokok pelayanannya
b. prinsip berkenaan dengan permasalahan individu.
ü Bimbingan dan konseling yang berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah, serta dalam kaitannya dalam kontak social dan pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
ü Kesenjangan social, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada diri individu yang kesemuanya menjadi perhatian utma pelayan bimbingan dan konseling.
c. Prisip-prinsip berkenaan Dengan program layanan
ü Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahannya.
ü Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu itu sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak lain.
ü Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
ü Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua sangat menentukan hasil pelayanan bimbingan.
ü Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan azas-azas bimbingan dan konseling di sekolah.
Pemenuhan terhadap azas-azas bimbingan dan konseling akan memperlancar pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, Adapun azas-azas tersebut meliputi:
· Azas kerahasiaan, pembimbing harus memelihara kerahasiaan data dan keterangan tentang siswa yang menjadi sasaran layananan.
· Azas kesukarelaan, adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik dalam menerima layanan.
· Azas keterbukaan, Peserta didik diharapkan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalm memberikan keterangan tentang dirinya maupun dalam menerima berbagai macam informasi dan materi yang berguna bagi pengembangan dirinya.
· Azas kegiatan, adanya partisipasi peserta didik secara aktif dalam penyelenggaraan layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan baginya.
· Azas kemandirian, peserta didik diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan cirri-ciri mengenang dan dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mewujudkan dirinya sendiri
· Azas kekinian, menghubungkan permasalahan yang telah berlalu dan masa depan dengan keadaan yang terjadi sekarang.
· Azas kedinamisan, layanan yang diberikan terhadap peserta didik hendaknya bergerak maju, tidak monoton dan terus berkenbang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
· Azas keterpaduan, adanya kordinasi dari guru maupun pihak lain yang saling menunjang, harmonis dan terpadu.
· Azas kenormatifan, segala bimbingan dan layanan yang diberikan tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang ada, seperti norma agama, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku. Akan teapi peserta didik diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.
{mospagebreak}
· Azas keahlian, layanan yang dilakukan harus dilakukan secara frofesionalisme sehingga dibutuhkan guru yang frofesional.
· Azas alih tangan, jika pemberi bimbingan sudah tiadak mampu menangani (klien) nya maka harus dialih tangankan pada seseorang yang lebih ahli.
· Azas tut wuri handayani, bimbingan dan layanan yang diberikan harus mampu mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan ransangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk lebih maju.
5. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan yang diberikan kepada siswa SD yang baru, dan jika perlu melalalui orang tua siswa guna memberikan pemahaman dan memungkinkan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya. Hasil yang diharapkan dalam layanan orientasi adalah dipermudahnya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan social, kegiatan belajardan kegiatan sekolah lain yang mendukung keberhasilan siswa. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan orientasi ialah fungsi pemahaman dan pencegahan. Pelayanan ini dilakukan diawal masuk sekolah dan mencakup berbagai macam layanan yaitu:
ü Orientasi umum sekolah yang baru dimasuki
ü Orientasi kelas baru dan semester baru
ü Orientasi kelas terakhir, UAS dan UAN.
2. Layanan Informasi
Menurut Prayetno, 1997: 76) “Layanan informasi adalah layanan yang bertujuan membekali siswa dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan anggota keluarga dan masyarakat”. Pemahaman yang diperoleh layanan informasi digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita menyelenggarakan hidup sehari-hari dan mengambil keputusan.
Materi umum layanan informasi meliputi:
ü Informasi pengembangan pribadi
ü Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar
ü Informasi sekolah lanjutan
ü Informasi jabatan (awal/sederhana)
ü Informasi lingkungan (kehidupan keluarga, sosial kemasyrakatan, keberagaman, sosial budaya, dan lingkungan lainnya.
Pelayanan bimbingan orientasi dan imformasi dapat disampaikan dengan cara yang sama yaitu ceramah, tanya jawab dan diskusi dan dapat dilengkapi dengan peragaan, selebaran dan peninjauan ketempat tempat yang dimaksud seperti ruang kelas, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain.
Readmore Baby...
PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR
PERAN GURU KELAS DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH DASAR
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional no. 20 tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional maka dirumuskan tujuan pendidikan dasar yakni memberi bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (pasal 3 PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar).
Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya dan pendidikan nasional. Untuk itu aset suatu bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi terletak pada sumber daya alam yang berkualitas. Sumber daya alam yang berkualitas adalah sumber daya manusia, maka diperlukan peningkatan sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.
Bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang penting dalam proses pendidikan sebagai suatu sistem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang bahwa proses pendidikan adalah proses interaksi antara masukan alat dan masukan mentah. Masukan mentah adalah peserta didik, sedangkankan masukan alat adalah tujuan pendidikan, kerangka, tujuan dan materi kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, system administrasi dan supervisi pendidikan, sistem penyampaian, tenaga pengajar, sistem evaluasi serta bimbingan konseling (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:58).
Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin. Dengan demikian bimbingan menjadi bidang layanan khusus dalam keseluruhan kegiatan pendidikan sekolah yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dalam bidang tersebut.
Di Sekolah Dasar, kegiatan Bimbingan Konseling tidak diberikan oleh Guru Pembimbing secara khusus seperti di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Guru kelas harus menjalankan tugasnya secara menyeluruh, baik tugas menyampaikan semua materi pelajaran (kecuali Agama dan Penjaskes) dan memberikan layanan bimbingan konseling kepada semua siswa tanpa terkecuali.
Dalam konteks pemberian layanan bimbingan konseling, Prayitno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
Guru Sekolah Dasar harus melaksanakan ketujuh layanan bimbingan konseling tersebut agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapat diantisipasi sedini mungkin sehingga tidak menggangu jalannya proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaran yang cukup berarti.
Realitas di lapangan, khususnya di Sekolah Dasar menunjukkan bahwa peran guru kelas dalam pelaksanaan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara optimal mengingat tugas dan tanggung jawab guru kelas yang sarat akan beban sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling kurang membawa dampak positif bagi peningkatan prestasi belajar siswa.
Selain melaksanakan tugas pokoknya menyampaikan semua mata pelajaran, guru SD juga dibebani seperangkat administrasi yang harus dikerjakan sehingga tugas memberikan layanan bimbingan konseling belum dapat dilakukan secara maksimal. Walaupun sudah memberikan layanan bimbingan konseling sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, namun agaknya data pendukung yang berupa administrasi bimbingan konseling juga belum dikerjakan secara tertib sehingga terkesan pemberian layanan bimbingan konseling di SD "asal jalan".
Dalam Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling tersirat bahwa suatu sistem layanan bimbingan dan konseling berbasis kompetensi tidak mungkin akan tercipta dan tercapai dengan baik apabila tidak memiliki sistem pengelolaan yang bermutu. Artinya, hal itu perlu dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. Untuk itu diperlukan guru pembimbing yang profesional dalam mengelola kegiatan Bimbingan Konseling berbasis kompetensi di sekolah dasar.
Berdasar latar belakang tersebut di atas, penulis tergerak untuk melakukan telaah mengenai peran guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah bagaimana peran guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar?
B. PEMBAHASAN
1. Hakikat Bimbingan dan Konsling di SD
M. Surya (1988:12) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian atau layanan bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Bimbingan ialah penolong individu agar dapat mengenal dirinya dan supaya individu itu dapat mengenal serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di dalam kehidupannya (Oemar Hamalik, 2000:193).
Bimbingan adalah suatu proses yang terus-menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, 1990:11).
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik sebuah inti sari bahwa bimbingan dalam penelitian ini merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin, dan membantu siswa agar memahami dirinya (self understanding), menerima dirinya (self acceptance), mengarahkan dirinya (self direction), dan merealisasikan dirinya (self realization).
Konseling adalah proses pemberian yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Prayitno, 1997:106).
Konseling merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada seseorang supaya dia memperoleh konsep diri dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk dimanfaatkan olehnya dan memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang (Mungin Eddy Wibowo, 1986:39).
Dari pengertin tersebut, dapat penulis sampaikan ciri-ciri pokok konseling, yaitu:
(1) adanya bantuan dari seorang ahli,
(2) proses pemberian bantuan dilakukan dengan wawancara konseling,
(3) bantuan diberikan kepada individu yang mengalami masalah agar memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri dalam mengatasi masalah guna memperbaiki tingkah lakunya di masa yang akan datang.
2. Perlunya Bimbingan dan Konseling di SD
Jika ditinjau secara mendalam, setidaknya ada tiga hal utama yang melatarbelangi perlunya bimbingan yakni tinjauan secara umum, sosio kultural dan aspek psikologis. Secara umum, latar belakang perlunya bimbingan berhubungan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional, yaitu: meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut sudah barang tentu perlu mengintegrasikan seluruh komponen yang ada dalam pendidikan, salah satunya komponen bimbingan.
Bila dicermati dari sudut sosio kultural, yang melatar belakangi perlunya proses bimbingan adalah adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga berdampak disetiap dimensi kehidupan. Hal tersebut semakin diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, sementara laju lapangan pekerjaan relatif menetap.
Menurut Tim MKDK IKIP Semarang (1990:5-9) ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni:
(1) masalah perkembangan individu,
(2) masalah perbedaan individual,
(3) masalah kebutuhan individu,
(4) masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan
(5) masalah belajar
3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di SD
Sugiyo dkk (1987:14) menyatakan bahwa ada tiga fungsi bimbingan dan konseling, yaitu:
a. Fungsi penyaluran ( distributif )
Fungsi penyaluran ialah fungsi bimbingan dalam membantu menyalurkan siswa-siswa dalam memilih program-program pendidikan yang ada di sekolah, memilih jurusan sekolah, memilih jenis sekolah sambungan ataupun lapangan kerja yang sesuai dengan bakat, minat, cita-cita dan ciri- ciri kepribadiannya. Di samping itu fungsi ini meliputi pula bantuan untuk memiliki kegiatan-kegiatan di sekolah antara lain membantu menempatkan anak dalam kelompok belajar, dan lain-lain.
b. Fungsi penyesuaian ( adjustif )
Fungsi penyesuaian ialah fungsi bimbingan dalam membantu siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi yang sehat. Dalam berbagai teknik bimbingan khususnya dalam teknik konseling, siswa dibantu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitannya. Fungsi ini juga membantu siswa dalam usaha mengembangkan dirinya secara optimal.
c. Fungsi adaptasi ( adaptif )
Fungsi adaptasi ialah fungsi bimbingan dalam rangka membantu staf sekolah khususnya guru dalam mengadaptasikan program pengajaran dengan ciri khusus dan kebutuhan pribadi siswa-siswa. Dalam fungsi ini pembimbing menyampaikan data tentang ciri-ciri, kebutuhan minat dan kemampuan serta kesulitan-kesulitan siswa kepada guru. Dengan data ini guru berusaha untuk merencanakan pengalaman belajar bagi para siswanya. Sehingga para siswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan bakat, cita-cita, kebutuhan dan minat (Sugiyo, 1987:14)
4. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di SD
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.
b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.
j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).
5. Kegiatan BK dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi
Berdasakan Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling (2004) dinyatakan bahwakerangka kerja layanan BK dikembangkan dalam suatu program BK yang dijabarkan dalam 4 (empat) kegiatan utama, yakni:
a. Layanan dasar bimbingan
Layanan dasar bimbingan adalah bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan ketrampilan-ketrampilan hidup yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan siswa SD.
b. Layanan responsif adalah layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh peserta didik saat ini. Layanan ini lebih bersifat preventik atau mungkin kuratif. Strategi yang digunakan adalah konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi. Isi layanan responsif adalah:
(1) bidang pendidikan;
(2) bidang belajar;
(3)bidang sosial;
(4) bidang pribadi;
(5) bidang karir;
(6) bidang tata tertib SD;
(7) bidang narkotika dan perjudian;
(8) bidang perilaku sosial, dan
(9)bidang kehidupan lainnya.
c. Layanan perencanaan individual adalah layanan bimbingan yang membantu seluruh peserta didik dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir,dan kehidupan sosial dan pribadinya. Tujuan utama dari layanan ini untuk membantu siswa memantau pertumbuhan dan memahami perkembangan sendiri.
d. Dukungan sistem, adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara dan meningkatkan progam bimbingan secara menyeluruh. Hal itu dilaksanakan melalui pengembangaan profesionalitas, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasihat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990)
Kegiatan utama layanan dasar bimbingan yang responsif dan mengandung perencanaan individual serta memiliki dukungan sistem dalam implementasinya didukung oleh beberapa jenis layanan BK, yakni:
(1) layanan pengumpulan data,
(2) layanan informasi,
(3) layanan penempatan,
(4) layanan konseling,
(5) layanan referal/melimpahkan ke pihak lain, dan
(6) layanan penilaian dan tindak lanjut (Nurihsan, 2005:21).
6. Peran Guru Kelas dalam Kegiatan BK di SD
Implementasi kegiatan BK dalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu peranan guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK sangat penting dalam rangka mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Sardiman (2001:142) menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:
a. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
b. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
c. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
d. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
e. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
f. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
g. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar.
h. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
i. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.
C. PENUTUP
1. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru kelas dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar sangat penting sekali. Sejalan diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru kelas mempunyai peran yang sentral dalam kegiatan BK. Peran tersebut mencakupi peran sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Peran tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.
2. Saran
Mewujudkan peran guru kelas dalam pelaksanaan kegiatan BK di SD bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut dikarenakan, di SD tidak memiliki Guru Pembimbing. Guru kelas memiliki tanggung jawab ganda, di samping mengajar juga membimbing. Oleh karena itu, guru kelas hendaknya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan BK sehingga memiliki wawasan yang mendalam terhadap kegiatan-kegiatan BK di Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2004. Pedoman Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang Bimbingan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.
M. Surya. 1988. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : UT.
Mungin Eddy Wibowo. 1986. Konseling di Sekolah Jilid I. FIP IKIP Semarang.
Nurihsan, Juntika. 2005. Manajemen Bimbingan Konseling di SD Kurikulum 2004. Jakarta: Gramedia Widiasaraan Indonesia.
Oemar Hamalik. 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
PP nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar. Jakarta: Dedpikbud.
Prayitno Erman Amti. 1997. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Depdikbud.
Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sugiyo, dkk. 1987. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: FIP IKIP Semarang.
Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang. 1990. Bimbingan dan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Tamita Jaya Utama
Winkel, 1991, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : Alfabeta, Ground
Readmore Baby...
BK, Solusi Kenakalan Remaja
”Pasangan pelajar menginap di sebuah hotel’’. Begitu berita yang tersaji pertengahan Oktober 2008 silam di media terbitan Kepri. Bak bersambung, publik dikejutkan lagi berita siswi SMA melarikan diri bersama pacarnya dan menginap di sebuah hotel. Belum reda berita tersebut, muncul pula berita sejumlah pelajar ditangkap saat pesta minuman keras. Yang membuat miris dan terasa menyentak, pelaku dari semua peristiwa tersebut adalah remaja yang berstatus pelajar sekaligus calon pewaris bangsa ini. Pertanyaan yang banyak terlontar barangkali, ”kok bisa?’’, ”fenomena apakah ini?’’ dan ”mengapa itu bisa terjadi?’’.
Tulisan ini diilhami setelah membaca berbagai tanggapan di media massa akibat meningkatnya kenakalan remaja (pelajar) di Kepri belakangan ini. Rata-rata para pejabat yang menangani bidang pendidikan berkomentar, remaja yang mencoreng dunia pendidikan harus ditindak dan menjadi perhatian khusus (Kala Pelajar Mulai Menyimpang, Liputan Khusus Batam Pos, Minggu 2 November 2008). Orangtua disarankan harus mengawasi anaknya, tempat-tempat hiburan dan hotel meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sekolah. Ada pula opini yang menyarankan menjadikan Gurindam 12 sebagai karakter pendidikan Kepri (Batam Pos Sabtu, 1 November 2008) dan komentar-komentar lainnya. Saya menilai, apa yang dikomentari tak menyentuh esensi permasalahan. Namun semua tak ada salahnya. Hanya saja, kita harus menemukan apa yang menjadi solusi menekan atau mengurangi kenakalan remaja tersebut.
Saya lebih sepakat dengan komentar Dekha Dwi, pelajar yang juga pasukan pengibar bendera (Paskibra) Provinsi Kepri seperti dimuat Batam Pos, Minggu 2 November 2008. Sekali lagi, bukan hendak menyalahkan komentar lain. Dekha yang seorang pelajar itu menyarankan agar setiap sekolah mempunyai Badan Konseling (BK) untuk mencegah perilaku menyimpang yang dilakukan pelajar. ”Kami mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan generasi penerus bangsa. Salah satu upaya pencegahan perilaku menyimpang adalah dengan mengadakan badan konseling di setiap sekolah,’’ ujar Dekha yang finalis Olimpiade Astronomi tingkat nasional tahun 2008.
Benar sekali kamu Dekha. Dan saya kira, inilah solusi yang tepat. Sebenarnya, Badan Konseling atau BK yang dulu disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), harus ada di setiap sekolah dan menjadi syarat penting sebagaimana setiap sekolah harus memiliki perpustakaan. Wadah ini mungkin sudah ada di setiap sekolah, namun perannya barangkali kurang diperhatikan. Bisa saja karena sekolah tak mengetahui secara pasti apa manfaat dan kontribusi keberadaannya. Juga ia tak menjadi perhatian lantaran tidak ada personel yang secara khusus menangani.
Penyelenggara atau guru yang menangani BK di sekolah biasa disebut konselor. Istilah ini secara resmi digunakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dengan menyatakan konselor adalah pendidik dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 menyatakan konselor adalah pelaksana pelayanan konseling di sekolah yang sebelumnya menggunakan istilah petugas BP, guru BP/BK dan guru pembimbing. Nah, berkaca dari fenomena kenakalan remaja yang terjadi, inilah momen peran Badan Konseling harus ditingkatkan dari selama ini yang hanya sekadar ada. Pada hakikatnya, tujuan BK sama dengan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. BK merupakan proses pemberian bantuan agar anak didik mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan.
Sebagai penyelenggara BK di sekolah, terlebih dahulu guru memang harus memahami akan hakiki dari makna keberadaan BK itu sendiri, apa tujuannya, bagaimana fungsi dan perannya di sekolah. Setidak-tidaknya ada empat fungsi utama guru BK, antaranya: pemahaman individu dengan segala karakteristiknya, fungsi pencegahan, yakni mencegah perilaku negatif yang dapat menghambat perkembangan anak, fungsi pengentasan, yakni memberi bantuan dalam mengentaskan permasalahan, serta fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yakni bagaimana memelihara dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah tempat untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya, baik sebagai pribadi, dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Secara sederhana, obyek-obyek dari BK dapat dikategorikan dalam tiga jenis yakni, bimbingan yang berhubungan dengan perkembangan pribadi (personal development), bimbingan yang berhubungan dengan pendidikan (education), dan bimbingan yang berhubungan dengan pemilihan pekerjaan atau bimbingan karier (vocational). Untuk dapat memenuhi fungsinya, beberapa tugas minimal yang harus dilakukan BK antara lain: Pertama, membantu anak supaya berhasil dalam studinya dengan cara memberi test yang sesuai untuk mengetahui intelegensi dan kemampuan anak. Kedua, menyelidiki minat dan latar belakang anak supaya diketahui latar belakang ekonomi, sosial, dan kebudayaan anak.
Ketiga, membantu memecahkan masalah-masalah yang mengganggu kelancaran studi anak, misalnya masalah keluarga, masalah pribadi, masalah belajar dan masalah pergaulan. Termasuk menekan dan menjauhkan anak dari masalah-masalah yang dapat mengganggu belajarnya dengan cara pengisian waktu luang, membantu dalam pemilihan hobi, membantu dalam bergaul, membantu memelihara kesehatan mental dan fisik serta mengadakan bimbingan secara individual maupun kelompok. Keempat, membantu anak dalam pemilihan pekerjaan dengan memberikan informasi mengenai jenis-jenis jabatan, memberikan informasi macam-macam perguruan tinggi serta mengajak anak-anak mengunjungi instansi-instansi ataupun industri-industri. Kelima, mengadakan kunjungan rumah guna memberi informasi kepada orang tua/wali tentang anaknya, dan meminta kerja sama orang tua/wali dalam ikut membantu pemecahan masalah anaknya di rumah maupun di sekolah.
Seorang guru BK, tak hanya harus memahami fungsi, tujuan dan perannya semata. Namun, dia harus khusus tanpa dibebani semisal tugas mengajar mata pelajaran di kelas dan merangkap jabatan lain di sekolah. Pun, guru BK haruslah benar-benar mereka yang kompeten. Artinya, BK membutuhkan tenaga-tenaga ahli, minimal ahli psikologi pendidikan dan bimbingan. Bahkan, untuk lebih bagus dapat ditambah dengan ahli di bidang pekerjaan sosial, dokter dan tenaga administrasi serta didukung fasilitas memadai untuk melakukan kegiatan yang bisa disejalankan dengan tujuan pendidikan.
Benar memang, untuk mengoptimalkan BK butuh biaya besar dan mahal. Namun bila dihayati dan dicermati secara seksama, bahwa guru BK eksistensinya sangat diperlukan. Apalagi kini kita dalam era globalisasi. Ke depan permasalahan semakin kompleks, baik lingkup internasional, regional, maupun nasional. Dampak dari semua itu akan berpengaruh terhadap perkembangan anak didik. Tingkat kerawanan yang menimpa anak didik perlu selalu dikhawatirkan, dan guru BK bertanggungjawab secara moral untuk mengantisipasi lalu memberikan bekal agar anak didik memiliki kekebalan terhadap bermacam-macam penyakit sosial.
Kita semua harus sepakat. Mungkin saatnya semua yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan (pemerintah, legislatif dan pakar di bidang pendidikan) untuk bersama-sama mulai berfikir bagaimana memberdayakan wadah BK di sekolah-sekolah. Harapan minimalnya, ya dapat menekan keinginan-keinginan anak yang kurang menguntungkan. Jika anak didik sudah diberikan bekal yang cukup, maka apapun dampak dari modernisasi akan dapat disaring secara positif sehingga semua itu menjadi proses pembelajaran agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara dewasa. Ini berarti, tanggungjawab peningkatan mutu pendidikan tersebut merupakan tugas kita bersama. Kelak, kita berharap berita miris seperti yang sudah terjadi tidak terdengar lagi. Semoga.***
Readmore Baby...
BK, Solusi Kenakalan Remaja
”Pasangan pelajar menginap di sebuah hotel’’. Begitu berita yang tersaji pertengahan Oktober 2008 silam di media terbitan Kepri. Bak bersambung, publik dikejutkan lagi berita siswi SMA melarikan diri bersama pacarnya dan menginap di sebuah hotel. Belum reda berita tersebut, muncul pula berita sejumlah pelajar ditangkap saat pesta minuman keras. Yang membuat miris dan terasa menyentak, pelaku dari semua peristiwa tersebut adalah remaja yang berstatus pelajar sekaligus calon pewaris bangsa ini. Pertanyaan yang banyak terlontar barangkali, ”kok bisa?’’, ”fenomena apakah ini?’’ dan ”mengapa itu bisa terjadi?’’.
Tulisan ini diilhami setelah membaca berbagai tanggapan di media massa akibat meningkatnya kenakalan remaja (pelajar) di Kepri belakangan ini. Rata-rata para pejabat yang menangani bidang pendidikan berkomentar, remaja yang mencoreng dunia pendidikan harus ditindak dan menjadi perhatian khusus (Kala Pelajar Mulai Menyimpang, Liputan Khusus Batam Pos, Minggu 2 November 2008). Orangtua disarankan harus mengawasi anaknya, tempat-tempat hiburan dan hotel meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak sekolah. Ada pula opini yang menyarankan menjadikan Gurindam 12 sebagai karakter pendidikan Kepri (Batam Pos Sabtu, 1 November 2008) dan komentar-komentar lainnya. Saya menilai, apa yang dikomentari tak menyentuh esensi permasalahan. Namun semua tak ada salahnya. Hanya saja, kita harus menemukan apa yang menjadi solusi menekan atau mengurangi kenakalan remaja tersebut.
Saya lebih sepakat dengan komentar Dekha Dwi, pelajar yang juga pasukan pengibar bendera (Paskibra) Provinsi Kepri seperti dimuat Batam Pos, Minggu 2 November 2008. Sekali lagi, bukan hendak menyalahkan komentar lain. Dekha yang seorang pelajar itu menyarankan agar setiap sekolah mempunyai Badan Konseling (BK) untuk mencegah perilaku menyimpang yang dilakukan pelajar. ”Kami mengimbau pemerintah untuk lebih memperhatikan generasi penerus bangsa. Salah satu upaya pencegahan perilaku menyimpang adalah dengan mengadakan badan konseling di setiap sekolah,’’ ujar Dekha yang finalis Olimpiade Astronomi tingkat nasional tahun 2008.
Benar sekali kamu Dekha. Dan saya kira, inilah solusi yang tepat. Sebenarnya, Badan Konseling atau BK yang dulu disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), harus ada di setiap sekolah dan menjadi syarat penting sebagaimana setiap sekolah harus memiliki perpustakaan. Wadah ini mungkin sudah ada di setiap sekolah, namun perannya barangkali kurang diperhatikan. Bisa saja karena sekolah tak mengetahui secara pasti apa manfaat dan kontribusi keberadaannya. Juga ia tak menjadi perhatian lantaran tidak ada personel yang secara khusus menangani.
Penyelenggara atau guru yang menangani BK di sekolah biasa disebut konselor. Istilah ini secara resmi digunakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dengan menyatakan konselor adalah pendidik dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2005 menyatakan konselor adalah pelaksana pelayanan konseling di sekolah yang sebelumnya menggunakan istilah petugas BP, guru BP/BK dan guru pembimbing. Nah, berkaca dari fenomena kenakalan remaja yang terjadi, inilah momen peran Badan Konseling harus ditingkatkan dari selama ini yang hanya sekadar ada. Pada hakikatnya, tujuan BK sama dengan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. BK merupakan proses pemberian bantuan agar anak didik mengenal dan menerima diri sendiri serta mengenal dan menerima lingkungannya secara positif dan dinamis serta mampu mengambil keputusan, mengamalkan dan mewujudkan diri sendiri secara efektif dan produktif sesuai dengan peranan yang diinginkannya di masa depan.
Sebagai penyelenggara BK di sekolah, terlebih dahulu guru memang harus memahami akan hakiki dari makna keberadaan BK itu sendiri, apa tujuannya, bagaimana fungsi dan perannya di sekolah. Setidak-tidaknya ada empat fungsi utama guru BK, antaranya: pemahaman individu dengan segala karakteristiknya, fungsi pencegahan, yakni mencegah perilaku negatif yang dapat menghambat perkembangan anak, fungsi pengentasan, yakni memberi bantuan dalam mengentaskan permasalahan, serta fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yakni bagaimana memelihara dan mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah tempat untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya, baik sebagai pribadi, dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Secara sederhana, obyek-obyek dari BK dapat dikategorikan dalam tiga jenis yakni, bimbingan yang berhubungan dengan perkembangan pribadi (personal development), bimbingan yang berhubungan dengan pendidikan (education), dan bimbingan yang berhubungan dengan pemilihan pekerjaan atau bimbingan karier (vocational). Untuk dapat memenuhi fungsinya, beberapa tugas minimal yang harus dilakukan BK antara lain: Pertama, membantu anak supaya berhasil dalam studinya dengan cara memberi test yang sesuai untuk mengetahui intelegensi dan kemampuan anak. Kedua, menyelidiki minat dan latar belakang anak supaya diketahui latar belakang ekonomi, sosial, dan kebudayaan anak.
Ketiga, membantu memecahkan masalah-masalah yang mengganggu kelancaran studi anak, misalnya masalah keluarga, masalah pribadi, masalah belajar dan masalah pergaulan. Termasuk menekan dan menjauhkan anak dari masalah-masalah yang dapat mengganggu belajarnya dengan cara pengisian waktu luang, membantu dalam pemilihan hobi, membantu dalam bergaul, membantu memelihara kesehatan mental dan fisik serta mengadakan bimbingan secara individual maupun kelompok. Keempat, membantu anak dalam pemilihan pekerjaan dengan memberikan informasi mengenai jenis-jenis jabatan, memberikan informasi macam-macam perguruan tinggi serta mengajak anak-anak mengunjungi instansi-instansi ataupun industri-industri. Kelima, mengadakan kunjungan rumah guna memberi informasi kepada orang tua/wali tentang anaknya, dan meminta kerja sama orang tua/wali dalam ikut membantu pemecahan masalah anaknya di rumah maupun di sekolah.
Seorang guru BK, tak hanya harus memahami fungsi, tujuan dan perannya semata. Namun, dia harus khusus tanpa dibebani semisal tugas mengajar mata pelajaran di kelas dan merangkap jabatan lain di sekolah. Pun, guru BK haruslah benar-benar mereka yang kompeten. Artinya, BK membutuhkan tenaga-tenaga ahli, minimal ahli psikologi pendidikan dan bimbingan. Bahkan, untuk lebih bagus dapat ditambah dengan ahli di bidang pekerjaan sosial, dokter dan tenaga administrasi serta didukung fasilitas memadai untuk melakukan kegiatan yang bisa disejalankan dengan tujuan pendidikan.
Benar memang, untuk mengoptimalkan BK butuh biaya besar dan mahal. Namun bila dihayati dan dicermati secara seksama, bahwa guru BK eksistensinya sangat diperlukan. Apalagi kini kita dalam era globalisasi. Ke depan permasalahan semakin kompleks, baik lingkup internasional, regional, maupun nasional. Dampak dari semua itu akan berpengaruh terhadap perkembangan anak didik. Tingkat kerawanan yang menimpa anak didik perlu selalu dikhawatirkan, dan guru BK bertanggungjawab secara moral untuk mengantisipasi lalu memberikan bekal agar anak didik memiliki kekebalan terhadap bermacam-macam penyakit sosial.
Kita semua harus sepakat. Mungkin saatnya semua yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan (pemerintah, legislatif dan pakar di bidang pendidikan) untuk bersama-sama mulai berfikir bagaimana memberdayakan wadah BK di sekolah-sekolah. Harapan minimalnya, ya dapat menekan keinginan-keinginan anak yang kurang menguntungkan. Jika anak didik sudah diberikan bekal yang cukup, maka apapun dampak dari modernisasi akan dapat disaring secara positif sehingga semua itu menjadi proses pembelajaran agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara dewasa. Ini berarti, tanggungjawab peningkatan mutu pendidikan tersebut merupakan tugas kita bersama. Kelak, kita berharap berita miris seperti yang sudah terjadi tidak terdengar lagi. Semoga.***
Readmore Baby...
Doa'ku
Ya Tuhanku Yang Maha Kuasa
Aku berdoa untuk seorang istri, yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seorang istri yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang istri yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau
Seorang istri yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu
Seorang istri yang mempunyai sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki keinginan untuk menauladani sifat-sifat AgungMu
Seorang istri yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa dia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia
Seorang istri yang memiliki hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas
Seorang istri yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku
Seorang istri yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah
Seorang istri yang mencintaiku bukan karena harta dan ketampananku tetapi karena hatiku
Seorang istri yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi
Seorang istri yang dapat membuatku merasa bagai seorang laki-laki ketika berada di sebelahnya
Seorang istri yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang istri yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seorang istri yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya
Seorang istri yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna
Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang laki-laki yang dapat membuat istri itu bangga
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMu, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMu, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikanlah aku sifatMu yang lembut sehingga ketampananku datang darimu bukan dari luar diriku
Berikan aku tanganMu sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatanMu sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja
Berikanlah aku mulukMu yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMu dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setia hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan "Betapa Besarnya Engkau Karena Telah Memberikan Kepadaku Seseorang Yang Dapat Membuat Hidupku Menjadi Sempurna"
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah tepat pada waktu yang Kau tentukan
Readmore Baby...
Jumat, Mei 01, 2009
MENIKAHLAH DENGANKU
Si gadis sontak memerah kala lelaki itu melontarkan kata-kata tersebut. Senang dan bimbang bergejolak jadi satu. Senang karena sebagai seorang wanita tentunya hal tersebut sangat menyentuh perasaan. Diajak menikah dengan seseorang yang dicintai adalah suatu kehormatan tersendiri, permintaan yang tak tergantikan dengan berjuta keindahan yang lain. Namun usia yang masih belum cukup matang membuat si gadis bimbang. Bimbang karena masih belum yakin apakah lelaki tersebut adalah yang terbaik untuknya. Ataukah masih ada lelaki lain diseberang waktu yang ternyata lebih baik lagi untuk dia anggukkan kepala kala kata ajakan tersebut terlontar.
Dan, si gadis memilih untuk menunggu waktu yang menurutnya tepat. Sembari menanti lelaki lain diseberang waktu yang mungkin ada. Kemudian pergilah sang lelaki tersebut, meninggalkan si gadis yang sesaat tertegun sedih.
Namun ternyata ketertegunan itu tidak sesaat, berkepanjangan, bahkan bertahun-tahun lamanya kesedihan masih bergelayut di wajah cantik si gadis. Aku bodoh! Kenapa tidak aku terima tawaran menikah itu sehingga tidak perlu kehilangannya. Kehilangan lelaki yang ternyata teramat dia cintai dan dia butuhkan untuk menemani sisa harinya di dunia ini. Semakin sedih lagi kala si gadis tahu bahwa beberapa lelaki yang dia temui diseberang waktu ternyata belum ada yang bisa menggantikan sosok si lelaki. Sosok ideal yang dia harapkan sebagai penanam benih di rahimnya kelak.
Nasi sudah menjadi bubur, dan si gadis harus mulai sadar dengan keadaan yang ditawarkan. Melupakan si lelaki dan mulai menyambut kehadiran yang lain, atau diam terpaku di depan pintu kebahagiaan yang telah tertutup untuknya.
Memilih yang lain. Itulah akhirnya yang menjadi pilihan si gadis, kala dia menemukan sosok unik yang lain. Sosok yang bisa membuatnya terlupa akan segala kesedihan di masa lampau. Sosok yang kemudian dengan berjalannya waktu juga menyampaikan kata keramat yang sama,
“MENIKAHLAH DENGANKU”
Sontak si gadis menganggukkan kepala, merangkul penuh haru lelaki tersebut, dan menulis sebuah janji dalam hati bahwa tak akan dia sia-siakan tawaran si lelaki dengan menyia-nyiakan kehidupan mereka berdua kelak. Ya! Belajar dari pengalaman, si gadis tak lagi bimbang dan menunggu sesuatu di ujung waktu yang belum jelas ujudnya. Si gadis sudah cukup merasa nyaman berada disamping lelaki yang ini, dan itu sudah cukup buatnya.
Namun ternyata, garis hidup berkata lain.
Mereka berdua tak pernah melaju ke jalan pelaminan. Janji yang tertulis, kandas di hantam sebuah ombak perbedaan yang tak bisa ditoleransi oleh kokohnya karang cinta.
Dan belajar dari pengalaman lagi, si gadis tak mau berdiam diri terlalu lama di pintu kebahagiaan yang telah tertutup paksa untuknya. Dia segera pergi dan berlalu dari situ, dan mulai menemui lelaki-lelaki lain lagi diseberang waktu.
Banyak, teramat banyak bahkan yang datang kepadanya. Namun tak satupun yang bisa menggetarkan hati si gadis. Bukan karena dia masih terbelenggu oleh sosok di masa lampau, namun si gadis mulai selektif.
Lelaki satu, baik, kaya, namun termasuk pria manja. Dan si gadis tak menyukainya, maka beralihlah dia.
Lelaki kedua, baik, tidak manja, tidak romantis. Si gadis masih berlalu
Lelaki ketiga, baik, romantis, tidak manja, tidak juga kaya. Si gadis tetap berlalu
Lelaki ke empat, baik, romantis, tidak manja, kaya, namun tidak dewasa. Dan….. si gadis…. Mulai merasa lelah.
Terpekur sendiri disepinya waktu.
Haruskah aku bersyukur atau menyesal???
Disyukurinya bahwa hingga detik ini dia bahkan tak pernah benar-benar tahu apa itu arti tidak dicintai. Namun kenapa lelaki-lelaki yang datang itu selalu sosok yang bukan dia inginkan?? Kenapa pada saat dia sudah menemukan sesuatu yang pas, tetap saja itu harus terenggut darinya??
Si gadis terdiam, mencoba mencari sendiri akan jawaban pertanyaannya itu.
Hingga akhirnya dia menemukan jawab tersebut.
Yang harus aku sesali adalah kebodohanku sendiri. Kebodohan yang tidak pernah melihat sesuatu dengan hati. Kala hati berdengung keras mengatakan tentang pilihannya, dia abaikan hanya karena sebuah pemikiran yang didasari oleh pandangan kasat mata yang serampangan dalam menentukan sebuah nilai. Bukankah Tuhan memberikan sesuatu itu atas dasar apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan oleh umatnya? Karena Tuhan pulalah yang paling tahu apa yang menjadi kebutuhan sang umat tersebut.
No body’s perfect rite?
Kemudian berkacalah si gadis di sebuah cermin kejujuran, dan ditemukan banyak kekurangan dalam dirinya. Teramat banyak malah. Jadi, sangat tidak fair jika si gadis kemudian menuntut sebuah kesempurnaan dibalik kekurangan diri yang sangat banyak itu.
Aah… sekarang aku tahu jawabnya!
Sebuah jawab yang kelak disampaikan kepada lelaki itu kala berucap,
MENIKAHLAH DENGANKU!
Ps : aku dedikasikan buat seorang kawan yang masih ragu akan kata hatinya. Hidup terlalu indah untuk diisi dengan printilan-printilan masalah yang tidak penting untuk dibahas sob!
Readmore Baby...
WANITA SHOLEHAH
Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan terbaik adalah wanita sholehah. Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah SWT.
Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan terbaik adalah wanita sholehah. Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat iaitu :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada mahram bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
- Tidak bermasam muka di hadapan suami
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairanlah jika banyak wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: ertinya:
” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”
Sabda Rasulullah s.a.w.: ertinya:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia.
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: ertinya:
” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir.”
3) Mudah terpedaya dengan syahwat.
4) Lemah iman.
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang terbaik adalah Wanita yang solehah.
Readmore Baby...
